
Jaidi Chandra, Ketapangnews.com
SETELAH tidak menjadi bupati Kabupaten Ketapang lagi, keseharian Drs Henrikus M.Si banyak dihabiskanya mengelola sawah miliknya di Desa Sukamaju Kecamatan Muara Pawan. Dulu hari-harinya diisi dengan kegiatan pemerintahan.
” Motto saya, Kita Boleh Tidur, Tetapi Lahan Jangan Tidur, ” ucap Henrikus disela-sela panen padi miliknya Rabu ( 28/3).
Benih padi yang ditanamnya benih Impari 32 bantuan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ketapang. Luas tanam padi disawah miliknya kurang lebih 6 Hektar.
“Namun penghasilan panen padi saat ini masih rendah kurang lebih 5-6 Ton per hektar,” ujarnya.
Kendala yang dihadapi Henrikus pada musim tanam padi kali ini, banyaknya hampa yang diakibatkan ulat di dalam batang padi.
“Saya terus bertekad tetap menanam dengan terus mengevaluasi dan memperbaiki kelemahan dan kendala yang ada,” tuturnya.
Panen padi yang dimilikinya yang mencapai 5 sampai 6 ton per hektar ini memberdayakan warga sekitar agar mendapat perkerjaan.
“Saya memberdayakan warga sekitar. Selain mereka bisa belajar bertani dengan benar. Juga bisa menghasilkan pendapatan bagi mereka,” katanya.
Semasa kepemimpinan beliau menjadi Bupati periode 2010-2015 pernah bercita-cita agar petani di Kabupaten Ketapang menjadi petani berdasi dengan selalu mengajak masyarakat jangan malu menjadi petani.
” Makanya saat saya sudah tidak menjabat Bupati lagi, saya tetap konsisten bertani, karena dulunya saya selalu mengajak masyarakat, makanya saya buktikan. Bahwa saya tidak malu untuk bertani,” ungkapnya.
Ia menegaskan, dari usaha pertanian bisa mensejahterakan petani. Terlebih dengan benih unggul dan alat pertanian semi moderen seperti ini. Apalagi ada bantuan yang diberikan pemerintah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebab bantuan tersebut dapat meningkatkan produktifitas hasil pertanian yang pada akhirnya dapat mensejahterakan petani itu sendiri.
Menurutnya, jika keluarga petani adalah keluarga yang besar dengan jumlah keluarga sangai banyak maka kebutuhan hidup semakin tinggi. Oleh karenanya, bila usaha pertanian ini tidak dikerjakan dengan sungguh – sungguh maka tidak akan mencukupi kebutuhan keluarga yang banyak .
” Harga beras saat ini cukup mahal. Bisa 10 ribu per kilo gramnya, bahkan harga berasnya bisa lebih mahal lagi. Kalau dua Kg sekali masak bisa mengeluarkan duit berapa ? kan, Otomatis beban hidup menjadi mahal tak mencukupi kebutuhan keluarga. Makanya bertani lebih baik.” Kata Henrikus.
Henrikus mengenang pada masa pemerintahan, dimana saat rapat koordinasi pemerintahan, camat- camat dimintakannya untuk menginventarisasi lahan tidur di wilayahnya masing -masing. Sebab melalui pemanfaatan lahan- lahan tidur ini akan sangat membantu produktifitas hasil pertanian. Bahkan Investor luar saja menginginkan lahan – lahan tidur yang dianggapnya produktif.
“Kenapa kita tidak lebih dahulu mengusahakannya,” ucapnya.
Henrikus mengungkapkan, jangan terlalu yakin dengan kondisi yang akan datang, bila terjadi sesuatu hal atau kondisi rawan pangan, maka tidak mustahil kita akan terkena imbasnya. Makanya harus lebih mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Ia berharap ke depannya masyarakat Ketapang khususnya, semakin maju dan sejahtera mengolah lahan pertanian.
“Jadi berkebunlah dan bertani untuk menghindari rawan pangan, ” tutupnya.(***)