
KETAPANGNEWS.COM,Marau-Dua saudara kandung Rahmad Jawadi (8) dan Vika (7) warga Dusun Awatan Desa Suka Karya RT 007 RW 002 Kecamatan Marau Ketapang diduga menderita penyakit lumpuh layu.
Keluhan yang dialami mereka berdua adalah kedua kaki lemah, sejak kecil tidak bisa berjalan yang di mungkinkan karena tidak pernah di imunisasi.
Ketika tim Surveilans bertandang ke tempat tinggalnya, Jumat (2/6) dan bertanya ke keluarganya tentang imunisasi, Mardan ayah dari kedua anak tersebut menjawab dengan alasan bahwa mereka tidak tau dan memang tidak mau imunisasi. Trus jarak pun menjadi alasan. Padahal di dekat rumahnya ada Posyandu.
Kepala Puskesmas Marau Dr Khairul mengatakan, untuk yang diduga AFP kakak beradik laki dan perempuan sudah kita ambil sampel Fesesnya untuk diperiksa dilaboratorium, apakah ada ditemukan virus polionya atau tidak, guna untuk menegakkan diagnosa sebenarnya.
Terjadinya hal seperti ini menurutnya karena bisa jadi faktor orang tua yang belum mau untuk imunisasi anaknya atau karena keyakinan adat atau tradisi juga karena rasa takut akan diberikan suntikan kepada anaknya.
“Hasil anamnesa dari orang tua masih ada yang belum mau untuk diimunisasi anaknya, mungkin hubungannya dengan adat atau tradisi, selain itu bisa juga karena ketakutan orangtua akan anaknya diberikan suntikan imunisasi. karena kedua anaknya tidak ada imunisasi sama sekali sejak lahir, ” tutur Khairul Sabtu (3/6).

Ditempat terpisah Kasie Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Ketapang Yulia Ningsih SKM menerangkan, bahwa penyakit yang di alami anak seperti ini diduga kena polio, akibat dari sekeluarganya tidak mau imunisasi.
“Akibatnya sekarang anak ini tak bisa bejalan hanya bisa bekesot. Karena Reflex patela (reflex lutut) negatif dan Otot tungkai bawah atropi (mengecil), ” terangnya.
Harapan Yulia Ningsih, kedua anak ini sebaiknya ditangani juga oleh dokter spesialis syaraf, apakah bisa direhabilitasi dan status sosial mereka yang perlu didukung untuk pemulihan anak-anak itu. Masih banyak PR untuk itu dan perlu koordinasi dengan lintas sektor lainnya.
“Semoga anak-anak ini bisa direhabilitasi dengan fisioterapi,”harapnya.
Ditambahkannya, kalaupun nanti hasilnya tidak bisa pulih, artinya mereka menjadi anak yang Difable yang berkebutuhan khusus. Jadi penangananya juga khusus.
Selanjutnya Yulia Ningsih juga memaparkan, tindakan yang kita ambil sampai sekarang baru penemuan kasus. Tindakan lanjutnya kami sudah koordinasi dengan camat dan Kepala Puskesmas untuk rencana merujuk anak ini ke Ketapang.
“Harapan saya, supaya masyarakat lebih memahami pentingnya imunisasi, untuk menyelamatkan anak-anak kita generasi penerus pembangunan agar mereka kebal terhadap penyakit menular yang bisa mengancam jiwa, sehingga kita bisa mencetak SDM sebagai aset pembangunan bangsa. Dan jangan khawatir saya sudah punya fatwa MUI yang menyatakan bahwa imunisasi itu tidak haram,” tegasnya. (Wan Usman).