Dua Individu Orangutan Dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

_MG_6533
IAR Indonesia bekerjasama dengan Balai (TNBBBR) dan  (BKSDA) Kallbar melakukan pelepasliaran dua individu orangutan di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Jumat (9/6). Doc IAR Indonesia.

KETAPANGNEWS.COM-International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, (TNBBBR) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat melakukan pelepasliaran dua individu orangutan (Pongo pygmaeus) di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Jumat (9/6).

Dalam press Release IAR Indonesia yang diterima redaksi Minggu (11/6), kedua orangutan ini bernama Amin dan Shila. Mereka diselamatkan IAR Indonesia dan BKSDA Kalbar beberapa waktu yang lalu. Amin adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari PT Karya Utama Tambang (KUT) pada 7 Maret 2013 silam.

Ketika diselamatkan, Amin berusia kurang lebih 2 tahun sebelumnya, Amin dipelihara oleh salah satu pekerja tambang di kawasan PT. KUT. Pemilik orangutan ini sudah mengetahui tentang adanya larangan untuk memelihara satwa yang dilindungi itu sehingga dia melaporkan orangutan yang dipeliharanya ke BKSDA Ketapang agar segera dievakuasi.

BKSDA Ketapang dan tim dari IAR Indonesia kemudian bergerak untuk menyelamatkan orangutan tersebut. Saat ditemui kondisi Amin sangat memprihatinkan dengan rantai yang terikat di leher. Pemiliknya mengaku sempat memasang rantai di pinggang Amin. Seiring bertambahnya ukuran badan Amin, rantai itu dipindahkan ke leher. Ketika diselamatkan tim medis IAR Indonesia menemukan banyak bekas luka di beberapa bagian tubuhnya.

Sedangkan Shila merupakan orangutan berjenis kelamin betina dan saat ini berusia 7 tahun. Shila diserahkan Yayasan Kobus di Sintang Kepada IAR Indonesia pada tanggal 21 November 2014. Sebelumnya Shila diselamatkan oleh Yayasan Kobus dari desa Monterado. Shila didapat dengan cara dibeli dengan harga 3 juta rupiah dan kemudian dirawat oleh Yayasan Kobus. Selama dipelihara Shila selalu diberi makanan seperti nasi, sayur, dan buah-buahan.

Setelah diselamatkan Shila dan Amin menjalani masa rehabilitasi di Pusat Penyelamatan dan dan Konservasi Orangutan IAR Ketapang. Masa rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami orangutan. Di masa rehabilitasi ini mereka belajar kemampuan dasar untuk bertahan hidup sebagai orangutan seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang.

Sebelum dilepasliarkan, tim medis harus benar-benar memastikan kondisi Amin dan Shila, mulai dari kesehatan, fisik, serta perilaku alaminya. Pada tahap terakhir sebelum dilepaskan, tim IAR Indonesia memasukkan mereka ke dalam pulau khusus untuk melakukan pengambilan data perilaku orangutan.

“Sejauh ini data perilaku Amin dan Shila menunjukkan hasil yang positif. Mereka sudah mahir memanjat, mencari makan, membuat sarang, jarang sakit dan tidak ada perilaku abnormal. Ini berarti mereka sudah siap dilepasliarkan dan bertahan hidup di alam bebas,” ungkap drh Sulhi Aufa, koordinator tim medis IAR Ketapang.

Tim pelepasan berangkat dari Ketapang sejak Rabu dini hari dan sampai di kawasan TNBBBR pada Kamis sore. Perjalanan ini ditempuh dengan menggunakan mobil selama 17 jam ditambah menggunakan perahu selama 1 jam dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 4 jam. Untuk menurunkan tingkat stress satwa selama dalam perjalanan, Amin dan Shila diistirahatkan dulu di dalam kandang habituasi selama 1 malam. Pelepasliaran dilakukan keesokan paginya di hari Jumat di titik pelepasan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Karena Amin dan Shila merupakan orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring untuk memantau perkembangan kedua orangutan ini di alam bebas selama 1-2 tahun. Tim monitoring yang berasal dari desa-desa penyangga kawasan taman nasional ini akan mengikuti orangutan dari bangun tidur sampai tidur lagi.

“Kegiatan monitoring ini dilakukan untuk memastikan kondisi mereka di alam bebas. Tim juga akan memastikan mereka survive dan akan melibatkan tim medis bila kondisi mereka dirasa kurang bagus.” jelas drh. Adi Irawan, Manager Operasional IAR Indonesia. Tim monitoring merupakan warga desa penyangga di kawasan TNBBBR yang sudah terlatih untuk melakukan kegiatan monitoring orangutan.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih sebagai tempat pelepasliaran karena statusnya sebagai Taman Nasional dapat menjamin keselamatan satwa yang ada di dalamnya, termasuk orangutan yang telah dilepasliarkan. Selain itu, kondisi hutan di sana masih bagus dan pakan alami orangutan berlimpah. Potensi ini diketahui dari hasil survey oleh tim IAR pada tahun 2011.

Sampai saat ini Pusat Penyelamatan dan Konservasi IAR Indonesia Ketapang telah menampung lebih dari 100 individu orangutan dan diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah sejalan dengan hilangnya habitat mereka akibat pembukaan hutan untuk perkebunan. Hal ini juga menyebabkan IAR Indonesia semakin kesulitan menemukan hutan yang aman untuk melakukan pelepasliaran. Padahal proses rehabilitasi juga bukan sesuatu yang murah dan mudah. Perlu waktu bertahun-tahun sebelum mereka dapat dilepasliarkan.

“Proses rehabilitasi ini memakan waktu yang panjang serta dana dan effort yang tidak sedikit. Lama proses rehabilitasi ini tergantung masing-masing individu. Ada yang cepat belajar, ada pula yang membutuhkan waktu yang lama,” ujar Karmele Sanchez, Program Direktur IAR Indonesia.

“Bahkan beberapa individu tidak cukup beruntung untuk dapat kembali ke alam bebas. Beberapa dari mereka terlalu lama dipelihara dan mendapat perlakuan yang salah sehingga mereka secara permanen kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup. Ini berarti mereka tidak akan pernah bisa dilepasliarkan seumur hodup mereka,” pungkasnya.(dra).

Berikut Foto Dokumentasi IAR Indonesia Pelepasliaran Orangutan :

_MG_6168
Proses pelepasliaran orangutan menuju hutan

 

_MG_6241
Lewati sungai untuk menuju lokasi pelepasliaran oramgutan.

_MG_6468
Orangutan kembali ke habitanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.