Lemang, Jajanan Tradisional di Sukadana

Lemang
Saiful, penjual lemang di Sukadana saat memasak lemang jualannya, Minggu (27/8).

KETAPANGNEWS.COM, Kayong Utara—Diakhir pekan, Keindahan lokasi Pemandian Air Paoh menjadi salah satu destinasi yang dapat mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.

Selain pengunjung yang semakin harinya semakin ramai, pedagangpun memanfaatkan momen tersebut untuk berjualan disekitar Pemandian Air Paoh.

Salah satunya seperti berjualan lemang yang terbuat dari campuran beras ketan, garam dan santan, serta diramu kedalam sebilah bambu, kemudian dimasak menggunakan bara api. Seperti halnya yang dilakukan Saiful salah satu penjual lemang setiap akhir pekan dilokasi wisata Kayong Utara yang berjualan pada hari Sabtu dan Minggu diakhir pekan.

“Saya hanya buka setiap hari Sabtu dan Minggu saja, karena hari biasa sepi dan tidak ada pembeli, ” kata Saiful, Minggu (27/8).

Untuk tingkat kesulitan sendiri, Saiful menuturkan, selain proses memasaknya cukup unik dengan menggunakan bara api yang memiliki suhu stabil. Tingkat kesulitan lainnya saat memasukan lapisan bambu dari daun pisang. Lapisan daun pisang tersebut dimasukkan sebelum bahan-bahan lainnya masuk.

“Kalau kesulitannya itu saya rasa saat proses memasukan daun pisang kedalam batang bambu sebagai pelindung beras agar tidak hangus dan menjaga rasa agar tidak pahit akibat getah bambu,” jelasnya.

Selain itu kata Saiful adalah proses memasak, karena harus terus di jaga agar apinya tidak menyala, dan bambu yang harus di tusuk untuk meratakan suhu di dalam bilah bambu.

Dalam sehari, Saiful hanya mampu membuat lemang sebanyak 45 sampai 50 batang, dengan menghabiskan beras ketan sebanyak 16 kilo. Sering kali Saiful kehabisan beras saat pembeli yang berasal dari luar kota memesan dalam jumlah banyak.

“Biasa saya hanya mampu membuat 45-sampai 50 batang lemang, karena terbentur modal untuk bahan baku, padahal kalau di hari Sabtu dan Minggu biasanya sampai kehabisan, karena 1 orang pembeli dari luar kota biasa memesan paling sedikit 4 sampai 5 batang, untuk oleh-oleh keluarga,”ujarnya.

Ia menyebutkan, harga dari beberapa ukuran lemang yang ia jual berbeda-beda. Jika berbentuk gemuk seharga Rp 25 ribu perbatang, yang agak ramping dijual Rp 20 ribu meskipun memiliki panjang yang kurang lebih sama.

Selain berjualan di akhir pekan, Saiful juga menerima pesanan pembuatan lemang dari warga yang memesan untuk acara pribadi, seperti khitanan, pernikahan dan acara lain.

“Biasa ada juga yang memesan ke saya untuk acara-acara kawinan, sunatan, atau acara-acara kantor dari Pemerintah,” tambah Saiful.

Namun, dari semua keunggulan lemang tersebut, salah satu pengunjung masih menyesalkan Pemerintah Daerah yang belum begitu memperhatikan makanan tradisional tersebut dalam hal pemasaran.

“Makanan ini memang enak dan menyehatkan, dan setau saya memang khas Sukadana, tapi saya belum melihat ada perhatian dari Dewan Kerajian Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kayong Utara untuk membantu mempromosikan atau bahkan memasarkan produk-produk ini ke luar daerah,” ucap salah satu pengunjung tersebut sambil memesan lemang.(hardi/rizar)

Leave a Reply

Your email address will not be published.