Yogi Mualaf Cilik ini Gunakan Handuk Sebagai Sajadah Saat Sholat

KUA Delta Pawan
Muhammad Yogi Setiady (kopi putih) didampingi ibunya saat mengucapkan dua kalimah syahadat di KUA Kamis (5/10).

KETAPANGNEWS.COM- Keinginan besar Muhammad Yogi Setiady  yang  kini berusia 8 tahun selalu ingin masuk agama Islam sudah terlihat sejak Yogi kecil. Bahkan tak hanya melihat dan belajar dari surau didekat rumah. Yogi kerap belajar Sholat dirumah menjadikan handuk sebagai sajadah sambil melakukan beberapa gerakan Shalat dengan mengajak teman-teman sebayanya baik yang muslim maupun non muslim.

“Jadi dirumah dia biasanya melaksanakan gerakan shalat bersama teman-temannya, dia seolah jadi imamnya,” tutur ibu Yogi Mariana Erie Yantie Jumat (6/10) di kediamanya.

Bahkan, hasrat Yogi begitu besar ketika masuk kelas 1 SD sering pergi dari rumah terutama pada pukul 15.00 WIB, menjelang magrib dan pada hari Jum’at. Yogi sering menghilang.

“Saya sebagai orangtua khawatir kemana yogi, pas kebetulan saat itu hari Jum’at dia lewat depan rumah sambil melambaikan tangan ke saya, saya heran itu yogi atau bukan, karena saat itu dia berpakaian baju koko dan kopiah,” ceritanya.

Usai orang Shalat Jum’at, Yogi pulang dan Ibunya menanyai Yogi dia saat hari Jumat pakai baju siapa.

“Dia jawab baju nanang (temannya-red) yang digunakan untuk shalat Jum’at di Masjid,” tuturnya.

Mendengar hal tersebut, dirinya seolah tak percaya dan mempertanyakan kebenaran perkataan anaknya, namun dengan santai Yogi menjawab dirinya ingin memeluk agama Islam.

“Jadi setiap sore Yogi ngilang, ternyata dari keterangan tetangga dia sering meliat orang sembahyang dan melihat cara orang berwudhu, tak hanya itu dia juga sering ke Pesantren untuk belajar soal agama Islam,” ungkapnya.

Memastikan hal tersebut, ia menanyakan ke Yogi mengapa sering pergi pada sore hari dengan membawa tas, ternyata Yogi mengaku dirinya pergi belajar agama untuk mengetahui soal agama Islam.

“Belum terlalu saya hiraukan saat itu, tapi dia pernah bilang kalau sudah besar mau naik haji mengajak mamak dan bapak,” ujarnya.

Menurutnya, Yogi bercerita mau kerja apa saja, asalkan halal, dan dia juga sering meminta uang ke saya ketika orang takbiran dan mengasi uang ke orang takbiran.

“Yogi mengatakan kesaya untuk berbuat amal dan bersedekah kepada orang yang meminta-minta,” jelasnya.

Keinginan besar Yogi juga terlihat ketika mulai aktif belajar pada kelas 1 SD, yang mana pada saat pelajaran agama setiap siswa di pisahkan antara agama Islam dan non muslim, saat itu Yogi hendak diajak masuk kelas agama non muslim, namun Yogi meronta dan menangis untuk belajar pada kelas agama Islam.

“Bahkan dia mengancam akan pulang kalau belajar agamanya, dia mengaku agamanya Islam dan belajar agama Islam,” tuturnya.

Lama kelamaan akhirnya Yogi diperbolehkan gurunya ikut pelajaran agama Islam, meskipun belum memeluk agama Islam bahkan nilai di rapotnya tertinggi pada pelajaran agama.

Ia menuturkan, berjalan waktu, Yogi semakin sering pergi pada sore hari, sampai pada waktu itu tetangganya menceritakan kalau saya tidak perlu khawatir kalau Yogi sering pergi ketika sore hari, bahkan menjelang magrib, dan meminta saya mendengarkan adzan berkumandang, qomat dan salawat dari surau dekat rumahnya.

“Kata tetangga saya yang adzan, salawat, qomat itu Yogi, saya tidak percaya itu, tapi ternyata memang benar itu Yogi, bahkan anak-anak sebayanya juga menjadi ramai ke surau. Yogi sempat bilang ke saya, mak Islam itu damai dan disurga itu ada ketenangan,” kenangnya.

Dari peristiwa tersebut membuat dirinya mulai luluh, bahkan sempat meneteskan air mata ketika Yogi mulai duduk dibangku kelas 2, Yogi meminta dirinya untuk mengislamkan Yogi dengan alasan supaya bisa belajar mengaji.

“Yogi minta di islamkan supaya bisa belajar mengaji dan mengatakan supaya ketika meninggal tidak kemana-mana, saya meneteskan air mata saat itu. Tak hanya itu Yogi juga minta supaya disunat agar bisa menjadi imam ketika telah beragama Islam,” ceritanya.

Mulai dari situlah, ia pun menceritakan hal tersebut kepada Ibu guru Yogi agar mengikuti Yogi ketika ada sunatan massal, sehingga Yogi akhirnya di sunat. Setelah itupun dirinya menceritakan keinginan dirinya mengikhlaskan Yogi yang ingin masuk Islam.

“Saat itu ibu guru Yogi nanya saya apakah ikhlas karena kalau sunat hal umum, tapi meluk Islam berbeda, saat itu saya diskusikan sama suami dan suami saya setuju. Makanya saya minta ibu guru mengurus semuanya. Bahkan malam kemarin Yogi sempat bilang kalau dia tidak ada roh lagi gentayangan tidak kesana-kesini karena sudah masuk Islam,” ungkapnya.

Iapun mengaku ikhlas anak bungsunya memeluk agama islam meskipun dirinya dan suami masih berstatus non muslim, bahkan ia dan suami sudah banyak membelikan Yogi baju muslim.

Menurutnya tak ada agama yang mengajarkan ke jalan tidak benar. Bahkan informasi mengenai keinginan banyak orang menyekolahkan dan membiaya Yogi agar masuk pesantren disambut baik olehnya.

“Kalau memang niatnya benar dan itu jalan terbaik kami selaku orangtua ikhlas, kami hanya melarang dan mencegah ketika Yogi ke jalan tidak benar,” harapnya.

Iapun mengaku, sudah lama menghargai keinginan Yogi ingin masuk Islam dengan menjaga makanan dan minuman yogi, bahkan yogi pun sering menanyakan dirinya ketika memasak ayam.

“Ayam kampung atau daging mak, saya jawab kampung, siapa motong orang Islam atau bukan, kalau islam dia mau makan katanya. Makanya kami soal makan minum menghargai Yogi dan tidak sembarangan,” katanya.

Ia mengungkapkan, Yogi juga kerap melarang anak-anak seumurnya untuk memegang anjing, bahkan ketika ada anjing dirinya mengusirnya karena takut dijilati. Bahkan Yogi pernah dibawa pulang Kampung di Desa Serengkah Tumbang Titi, disana Yogi lebih memilih makan mie instan.(dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published.