
KETAPANGNEWS.COM – Bupati Ketapang, Martin Rantan mempertanyakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2012 sekitar 8 Miliar yang dipergunakan untuk pembangunan kolam rakyat di Kabupaten Ketapang.
Menurutnya pada saat itu dirinya masih menjabat sebagai anggota DPRD Ketapang, dan saat ini apakah anggaran begitu besar untuk pembuatan kolam rakyat sudah memberikan dampak bagi perindustrian perikanan di Ketapang.
“Dalam APBD 2012 ketika saya masih jadi anggota DPRD Ketapang ada sekitar 8 miliar teranggarkan dibidang perikanan budidaya yang semuanya dibangun kolam rakyat baik di desa-desa atau di kota,” ungkapnya belum lama ini.
Dengan anggaran yang begitu banyak itu, menurutnya sampai hari ini tidak ada nampak hasil dari budidaya perikanan dikolam rakyat tersebut, padahal menurutnya banyak sekali kolam rakyat yang dibangun saat itu.
“Coba kita liat berapa persen hasil budidaya perikanan masyarakat yang dijual ke pasar-pasar desa atau kota,. Tidak ada kan,” ucapnya.
Untuk itu, ia berharap kedepan disetiap Kecamatan memiliki unit perkolaman rakyat yang dikelola oleh pemerintah, sehingga nantinya UPTD setempat bisa menjual bibit ikan ke masyarakat dengan harga yang terjangkau, misalkan satu ekor untungnya hanya seratus rupiah kalau dalam sebulan ada berapa ribu ekor kan lumayan.
“Nanti masyarakat bisa diberi kegiatan peningkatan kapasitas mereka dibidang perikanan, jadi biar ada hasil diberikan, jangan kolam yang dibangun hanya untuk dijadikan lokasi menghilangkan stres tapi untuk menambah perekomian masyarakat,” harapnya.
Sementara Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Ketapang, Markus mengaku pihaknya hanya memiliki data kolam ikan kelompok masyarakat hanya sejak 2014-2016, hal tersebut lantaran dirinya termasuk Kepala Dinas baru masuk di dinas ini.
“Kalau untuk 2017 tidak ada kolam sebab terbentur dengan peraturan terkait persoalan hibah,” akunya.
Ia menjelaskan, kalau dari data yang dimiliki pihaknya, pada tahun 2014 ada 776 kelompok. Kemudian 2015 ada 24 kelompok dan 2016 ada 39 kelompok yang memiliki kolam dan setelah pembangunan kolam tentu ada beberapa dilakukan peningkatan.
“Peningkatan berupa kolam berpotensi, misalkan kalau awalnya cuma berupa galian ditingkatkan dengan mamsang sevil, kemudian juga ada program peningkatan membangunkan rumah tunggu jadi kolam jadi lebih bagus. Untuk datanya kalau 2014 2014 ada kita bangunkan 10, 2015 ada delapan dan 2016 ada enam,” akunya.
Ia menjelaskan, dari total kolam sebanyak 836 yang tersebar di berbagai Kecamatan, beberapa diantaranya sudah diambil sampel, seperti di Sandai, Simpang Hulu, Simpang Dua, Air Upas.
“Ada kolam-kolam di Kecamatan berpotensi menghasilkan atau memproduksi ikan,” akunya.
Untuk itu, terhadap kelompok yang berpotensi diberikan pelatihan, misalkan pelatihan untuk membibit atau mengawinkan ikan, hal ini agar kedepan terhadap kolam yang berpotensi terus dilanjutkan pembinaanya.
“Tujuannya untuk meningkatkan perekonomian kerakyatan terutama pada kelompok-kelompok, untuk kolam tidak berpotensi kita biarkan,” pungkasnya. (dra).