Ustad Pantun Berikan Tausiyah di Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang

Semarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW

DSC_4089
.Taufiqurrahman S.Q (Ustad Pantun) memberikan tausiyah di Masjid Agung Al – Ikhlas Ketapang.

KETAPANGNEWS.COM— Setelah sukses melaksanakan Lomba Qasidah dalam mensemarakkan  Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H, kembali PHBI Kabupaten Ketapang menghadirkan H.Taufiqurrahman S.Q (Ustad Pantun) memberikan tausiyah di Masjid Agung Al – Ikhlas Ketapang. Tabliqh Akbar pada Kamis (7/12) malam dipadati jemaah, dan tampak hadir Gusti Fadlin, Staf Ahli Bupati Ketapang mewakili Bupati Ketapang.

Bupati Ketapang dalam sambutannya mengajak para masyarakat khususnya jemaah Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang untuk meneladani  hal-hal yang terhebat dari Nabi Besar Mumammad SAW, yaitu akhlaknya yang mulia. Karena misi kenabian Muhammad SAW yang paling utama adalah menyempurnakan akhlak manusia.Peringatan Maulid Nabi ini hendaknya kita jadikan momentum untuk lebih mengenal sosok agung yang menjadi panutan dunia akhirat.

Setelah sambutan Bupati Ketapang disampaikan staf ahli Bupati, selanjutnya Ustadz H.Taufiqurahman SQ memberikan tausiyah kepada jemaah. Ia mengupas Implementasi taqwa sebagaimana suri teladan dari Rasulullah SAW.

Ia mengingatkan bagaimana Allah SWT memuliakan Nabi Muhamad SAW. Karena itu, ia mengingatkan bagaimana kita untuk mengajarkan  anak-anak agar bisa hafal Al-Quran. Sejumlah ayat di Al Quran dikutipnya bagaimana ayat kitab suci menyebutkan nama-nama nabi
dan rasul. Tetapi hanya Nabi Muhammad SAW yang secara tegas disebutkan dengan penamaan Rasullulah.

Diselingi pantun dan selawat kepada Rasulullah SAW, ustadz Taufiqurahman mengingatkan kita untuk menguatkan aqidah. Jangan sampai Aqidah kita tergoyahkan. Selain itu ia, juga mengingatkan bagaimana Allah memuliakan Rasulullah dari jasmani dan rohani. Salah satunya bagaimana Allah SWT mengajak umat untuk sholat malam, tetapi Baginda Rasulullah SAW mencontohkan selalu rajin sholat malam sampai kakinya bengkak. Sebelum melakukan dakwah, baginda selalu memberikan contoh terlebih dahulu.

Lebih lanjut, ustadz pantun juga menceritakan bagaimana kisah  sya’ban ra, sosok sahabat Rasulullah yang selalu rajin ke masjid. Ia selalu datang ke masjid sebelum sholat berjamaah dan selalu melakukan itikaf di pojok depan masjid. Mengapa dia selalu mengambil posisi di pojok? itu karena dia tidak mau mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan seperti ini sudah sangat dipahami oleh semua orang bahkan oleh Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah
SAW merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban RA pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jemaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tidak ada seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun sengaja  ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir
sholat subuh kesiangan, Rasulullah memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Rasulullah bertanya apa ada yang mengetahui
kabar dari Sya’ban RA. Namun tak ada seorangpun yang menjawab. Rasulullah pun bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA. Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA. Rasululullah yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasulullah dan
rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud. Rombongan Rasul dampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut beliau mengucapkan salam dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam. Wanita tersebut adalah istri sya’ban. Kemudian dijelaskan kondisi sya’ban yang sudah meninggal tadi pagi.

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya ada sesuatu yang jadi.tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematian Sya’ban berteriak tiga kali dengan masing – masing teriakan disertai satu kalimat. Di masing – masing teriakannya dia berucap kalimat :“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh”, “ Aduuuh kenapa tidak yang baru“, “Aduuuh kenapa tidak semua”. Kemudian Rasullulah melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 yang artinya:

“Sesungguhnya.kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam,“.

Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA ( dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain. Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu. Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat.

Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah – langkahnya ke Masjid. Dia melihat seperti apa bentuk sorga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……” Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban RA melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju. Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.

Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan. Sya’ban RA pun iba , lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama – sama ke masjid melakukan sholat berjamaah. Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah. Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi : “Aduuuh kenapa tidak yang baru“. Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak
sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke
segelas susu. Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut Sya’ban RA merasa iba .
Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama – sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu , dengan porsi yang sama.

Allah SWT kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan sorga yang indah. Demi melihat itu diapun berteriak lagi:“Aduuuh
kenapa tidak semua”. Sya’ban RA kembali menyesal . Seandainya dia
memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah. Masyaallah.

Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal. Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas, konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.

Diakhir tausiyah, ustadz Taufiqurahman juga membimbing salah satu Mualaf yang sukarela mengucapkan syahadat. Ia meminta kepada seluruh jemaah untuk membimbing salah satu saudara dalam menjalankan perintah untuk beribadah. (Adv/dra).

Leave a Reply

Your email address will not be published.