Kades Bantah Kalau Warganya Alami Penyakit Gatal Akibat Limbah PT LSM

Peninjauan Limbah PT LSM
Awak media bersama perangkat Desa Sungai Kelik dan Tokoh masyarakat saat mengecek langsung kolam limbah milik PT LSM BGA Graup, Rabu (27/12).

KETAPANGNEWS.COM—Kabar bahwa warga Desa Sungai Kelik, Kecamatan Nanga Tayap mengalami penyakit kulit akibat tercemar limbah PT Ladang Sawit Mas (LSM) BGA Group, seperti dimuat salah satu media mendapat bantahan warga setempat. Kali ini bantahan datang dari Kepala Desa Sungai Kelik, Ejar Suandi.

Ejar Suandi mengatakan, sejauh ini dirinya belum mendapatkan informasi dari warganya terkait penyakit gatal-gatal akibat limbah pabrik. Menurutnya, disemua pabrik pasti ada limbah.  Namun khusus disini, sepengetahuan dirinya sudah melalui proses penyaringan. Sehingga tidak berbahaya, terlebih telah terbukti belum ada warga melapor ke Pemerintah Desa.

“Sampai saat ini, belum ada satupun masyarakat yang lapor sama saya soal penyakit gatal akibat limbah pabrik. Kemudian adanya ikan yang mati disungai, saya juga belum dapat informasinya,” kata Ejar Suandi kepada awak media di Desa Sungai Kelik, Rabu (27/12).

Selain itu, ia juga mengaku resah. Lantaran namanya sebagai kepala Desa telah dicatut oleh oknum masyarakatnya.

Dibalik informasi yang menurutnya tidak benar itu, justru ia menilai hadirnya PT LSM masuk ke Desa nya sangat membantu. Terutama dalam hal lapangan pekerjaan. Kemudian kebun plasma dan program CSR yang terus berjalan.

“Kita justru terbantu, dalam hal menyerap tenaga kerja. Tapi kita minta perusahaan memprioritaskan masyarakat sekitar sepanjang memang diperlukan. Serta sesuai kemampuan SDM nya,” ucapnya.

Untuk program CSR, informasi dari warga, di Dusun Tanah Merah sedang dibangun lapangan bola. Kemudian Dusun Kelik Tua juga sedang dibangun dua lokal ruangan belajar Sekolah Dasar (SD).

Sementara Ketua BPD Desa Sungai Kelik, Ridwan menilai tidak masuk akal jika penyakit gatal-gatal serta banyak ikan mati di Sungai akibat dampak pencemaran limbah. Seperti misalnya di Dusun Tanjung Perak dan Kelik Tua.

“Dua desa ini tidak mungkin menerima dampak dari pencemaran limbah itu, sebab letak dua Dusun ini berada diatas aliran sungai Tanah Merah, inikan tidak masuk akal,” ungkapnya.

Kemudian, untuk sungai Tanah Merah itu sendiri selama ini tidak pernah digunakan oleh masyarakat untuk makan dan minum, palingan hanya MCK, itupun belum pernah terjadi hal sangat patal.

Data Poliklinik PT LSM
Data pasien yang berobat ke Poli Klinik PT LSM BGA Desa Sungai Kelik.

Berdasarkan data dari Poli Klinik PT LSM Wilayah 8A Sungai Kelik, sejak Januari – November 2017 di Desa tersebut. Untuk warga yang berobat terkait  penyakit gatal akibat pencemaran limbah tidak ditemukan.

Meskipun ada yang mengalami penyakit kulit, berdasarkan data itu hanya diakibatkan lain hal, seperti alergi alat kosmetik, pupuk, bakteri dan berupa bisul. Sehingga menyebabkan penyakit Dermatitis Kontak, Dermatitis Atopik dan Dermatitis Seboroik.

Pada kesimpulan total keseluruhan, dalam data disebutkan tiga jumlah golongan penyakit tertinggi dari jumlah pasien yang berobat bulan Januari – November 2017 sebanyak 4.659 yaitu pernafasan sebanyak 1.683. Selebihnya seperti Febris, Hypotensi, kontrol luka, dan lain-lain.

Terkait informasi tersebut, sekitar pukul 17.20, awak media bersama Kepala Desa Sungai Kelik, Mantan Kepala Desa, Kadus Tanah Merah, Mantan Kadus Kelik Tua, Tokoh Masyarakat Kelik Tua, Ketua RT 13 Dusun Tanah Merah dan beberapa tokoh masyarakat langsung mengecek ke tempat pembuangan limbah perusahaan PT LSM.

Saat dilokasi, awak media bersama rombongan melakukan pengecekan bersama-sama. Yakni dimulai dari kolam satu hingga sembilan dengan jarak kurang lebih 500 meter. Dari masing-masing kolam terdapat perubahan warna, bau dan jenis limbah.

Sehingga pada akhirnya, ketika berada dikolam ke sembilan justru terdapat air yang jernih. Lantaran telah melalui proses penyaringan.

Selanjutnya,  terkait adanya video yang ditunjukkan Kadus Tanah Merah kepada awak media yang menceritakan saluran limbah oleh oknum masyarakat setempat, justru tidak diketemukan. Bahkan mereka juga kebingunan posisi tempat video itu diambil.(absa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.