
KETAPANGNEWS.COM – Tajau (tempayan) tugu perdamaian dipersimpangan Jalan A Yani-Merdeka Ketapang, yang dipecahkan orang beberapa waktu lalu, telah dilakukan penggantian oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Ketapang. Pergantian tersebut dilaksanakan dengan ritual adat penggantian Tajau, Rabu (7/2). Dengan digantinya tajau, diharapkan Kabupaten Ketapang tetap aman dan kondusif.
Bupati Ketapang, Martin Rantan SH yang juga Ketua DAD Ketapang ikut menyaksikan prosesi ritual adat penggantian tajau oleh para dukun demong dan tetua adat Dayak Ketapang. Selain itu hadir juga Forkopimda, Raja Ulu aik Petrus Singa Bansa, para tokoh masyarakat dari berbagai etnis, tokoh agama yang ikut menyaksikan prosesi rutual adat yang berjalan dengan hikmat.
Bupati Martin Rantan SH dalam sambutannya memberikan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya, terutama kepada Kapolres Ketapang beserta jajaran yang telah mengungkap dengan menangkap pelaku yang memecahkan tajau di tugu tersebut.
“Setelah kita tanya pelaku tidak ada niat, tidak ada perintah dari siapapun. Artinya pelaku bertindak atas keinginan sendiri dan tidak ada perintah dari pihak manapun,” kata Bupati didampingi perwakilan dari pelbagai suku yang ada di Ketapang.
Martin Rantan, atas nama Pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada DAD Ketapang yang sudah menginisiasi memprakarsai dipasangnya kembali tajau yang pecah tersebut.
Diceritakan Bupati Martin Rantan sejarah tugu perdamaian yang berdiri di tahun 2001, tugu tersebut dijadikan tempat bagi masyarakat kabupaten Ketapang untuk melakukan perdamaian.
Hal ini disebabkan pada tahun 90 an sampai tahun 2000, terjadi gejolak atau kerusuhan di kabupaten Kabupaten lain, seperti kabupaten Sambas, kabupaten Pontianak atau lainnya,
Bupati yang saat itu sebagai panitia pelaksana pendirian tugu perdamaian berharap kerusuhan yang terjadi di beberapa Kabupaten lain tidak terjadi di Kabupaten Ketapang.
“Pada saat itu Bupatinya Pak Morkes, dan Wakil Bupatinya Pak Laurensius Majun bersama Dewan adat Dayak Kabupaten Ketapang melakukan acara ritual adat pengukuhan tugu ini menjadi tugu tolak bala,” kata Bupati.
Dijelaskan Bupati sedangkan pemangku tugu tolak bala pada saat itu adalah adalah Bapak Laurensius majun yang dikukuhkan oleh Panglima Burung yang juga di hadiri juga Raja Ulu Aik.
“Oleh karena itu ketika tugu ini rusak oleh alam sekalipun maka kita wajib untuk memperbaikinya,“ terang Bupati.
Selanjutnya seperti yang dilakukan hari ini, untuk memperbaikinya perlu acara adat atau ritual karena menurut ketua DAD Ketapang ini kalau dipasang begitu saja makna adat menjadi hilang dan ditakutkn menyimpang dari tujuan semula.
Disampaikan Bupati pada hari ini kita sama-sama melihat dan oleh Pemerintah sendiri telah diberikan tugu perdamaian masyarakat Kabupaten Ketapang, yang ada bukan hanya masyarakat Dayak, bukan hanya masyarakat melayu, bukan hanya masyarakat tiongha tetapi masyarakat Kabupaten Ketapang yang multi etnis dan multi agama.
Hadirnya para tokoh adat tokoh agama yang di undang menurut Bupati untuk mengingatkan kembali ditahun 2001 tugu ini didirikan diadati sebagai tugu perdamaian hal itu untuk tidak melakukan hal hal yang tidak diinginkan “ Jangan sedikit sedikit main atas nama suku, sedikit sedikit main atas anam agama, “ kata Bupati mengingatkan.
Sebagai Kepala Daerah Bupati mengingatkan kembali supaya Ketapang ini tetap kondusif tetap aman tidak main suku dan tidak main agama,
“Saya pikir kalau setiap suku hidup berdampingan harmonis dalam etnis harmonis dalam kerukunan umat beragama Ketapang ini tetap aman damai dan kondusif, sehingga ketapang menjai daerah yang maju dan kelak masyarakat menjadi sejahtera,“ ucapnya.
Dalam kesempatan itu Bupati mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan organisasi etnis dan Dewan adat telah melaksankan ritual pennggantian tempayan di tugu tolak bala,
Dengan sudah digantinya tempayan tersebut Bupati berharap dapat menetralisir situasi yang kemarin sempat memanas dengan pecahnya tempayan ini.
“ Marilah kita kembali bergandengan tangan bersatu sehati untuk menciptakan kondisi aman dan damai di Kabupaten ketapang sehingga menjadi daerah yang kondusif,“ ajaknya lagi.
Dalam momen tersebut Bupati menyampaikan pesan Pemerintah dan pesan Presiden Jokowi yang disampaikan dalam natal bersama, karena tidak lama lagi memasuki momen pilkada Gubernur.
Bupati berharap kepada masyarakat Ketapang jaganlah melakukan politik identitas bukan atas nama suku dan atas nama agama dan menurutnya biarkan untuk mengkampanyekan calon Gubernur itu di kembalikan kepada partai masing masing, karena dijelaskan Dia tidak satupun diantara calon itu yang dicalonkan dari suku atau calon dari agama.
“ Mereka semua dicalonkan partai parta yang ada di Republik ini, sebab itu kita ikuti saja proses jadi pemilih yang cerdas biarkan petugas petugas partai yang mengkaanyekan calon tersebut,“ tutupnya.(adv/dra)