
KETAPANGNEWS.COM- Mat Yusuf (64) satu diantara warga Sukabangun Dalam yang melakukan somasi melalui kuasa hukumnya mengatakan kesal dengan sikap PLN yang sampai saat ini belum merealisasikan pembebasan lahan miliknya. Ia mengaku sudah tidak tahan lagi tinggal di dekat PLTU akibat dampak negatif yang dirasakannya.
“Sejak awal pembangunan dampaknya sudah terasa, suara bising dan semen rumah kami retak akibat aktivitas pembangunan PLTU. Kami pernah komplain tapi tidak digubris,” ungkapnya.
Ia menuturkan, dirinya beserta warga lain yang komplain tak hanya mengeluhkan suara mesin yang menganggu pendengaran mereka, tetapi juga persoalan debu dari Chimney yang masuk hingga kedalam rumah mereka.
“Belum lagi persoalan keberadaan Cooling Tower yang airnya asin mengalir hingga kerumah kami dan berdampak matinya tanaman dan tumbuhan disekitar rumah kami,” ucapnya Jumat ( 14/12).
Ia mengaku, dirinya pernah mempertanyakan progres pembebasan lahan ini namun tidak mendapatkan jawaban, bahkan dirinya pernah menawarkan kepada pihak PLN untuk menginap sehari atau dua hari kerumah kami agar merasakan apa yang kami rasakan.
“Kalau manager PLN mau, silahkan tidur dirumah kami sehari saja, kemudian rasakan apa yang kami rasakan. Kami tinggal sudah lama jauh sebelum PLTU dibangun, apakah kami harus mengalah meninggalkan rumah kami tanpa ada pergantian rugi,” tanyanya.
Ia mengaku, bersyukur mengenai adanya dampak positif dari PLTU namun tentunya pemerintah dalam hal ini PLN juga tidak bisa mengabaikan dampak negatif yang ia dan beberapa warga lain rasakan. Untuk itu ia mendesak segera dilakukan pembebasan lahan seperti perjanjian PLN Area Ketapang pada tahun 2017 silam.
“Kami siap pindah dari rumah kami, kalau memang sudah ada pergantian dan pembebasan lahan,” ujarnya.
Menurutnya, ia tidak ngotot mau tetap tinggal dirumahnya, karena kami sudah tidak tahan dan takut terkena dampaknegatif. Namun sampai saat ini tidak ada kepastian kapan pembebasan lahan dilakukan.
” Kami seolah ditipu oleh janji PLN,” pungkasnya. (Jay).