Rusni Pelopor Penyelamat Penyu

IMG-20190516-WA0011
Rusni ( tengah). Penyelamat Penyu mendapat sertifikat penghargaan.

KETAPANGNEWS.COM- Sebagai salah satu jenis satwa langka yang dilindungi, keberadaan penyu semakin terancam punah. Perburuan telur dan daging penyu secara terus menerus, baik untuk dikonsumsi maupun untuk diperdagangkan menjadi faktor utama penyebabnya.

Di sisi lain, secara alami, ketidak berhasilan penetasan telur antara lain disebabkan juga oleh adanya gangguan dari hewan-hewan predator seperti anjing hutan, biawak, babi, musang, semut dan kepiting (ghost crab) yang memangsa telur dalam sarang.

Untuk mendukung kelangsungan hidup populasi Penyu terutama adalah tersedianya habitat yang memadai. Gangguan terhadap habitat penyu antara lain oleh lalu lintas air yang semakin ramai oleh para nelayan serta para pengunjung dan banyaknya vegetasi yang rusak akibat terjadinya abrasi yang mengakibatkan terjadinya degradasi habitat penyu.

IMG-20190516-WA0012
Penyu sisik (Eremochelys imbricata ) dilepasliarkan di sekitaran pantai dekat dengan sarang sebelumnya. Kegiatan ini dihadiri BKSDA Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Kades Pelang, FFI Ketapang, KPH Ketapang dan Balai TNGP.

Mengatasi hal tersebut, untuk mempertahankan populasi penyu, perlu dilakukan upaya konservasi. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pembinaan dan perlindungan terhadap habitat tempat bertelur Penyu dan penangkaran atau penetasan telur secara terkontrol. Penetasan secara terkontrol dilakukan melalui pemindahan tempat pengeraman telur-telur penyu dari sarang alami ke sarang semi alami.

Rusni, salah satu masyarakat Desa Pelang, dengan kesadaran sendiri berinisiatif menyelamatkan lingkungan sekitar dengan menjaga kelestarian Penyu . Disertai niat yang tulus berupaya mandiri melakukan upaya penetasan telur penyu, dari sarang yang ditemukannya sekitar pertengahan bulan Maret lalu.

Cerita Rusni, berawal dari kegiatan mencari umpan untuk memancing tanpa sengaja Rusni melihat jejak penyu di sekitar pantai Desa Pelang. Berdasarkan pengalamannya beliau akhirnya menemukan sarang penyu dan melihat 102 butir telur.

Memahami bahwa penyu merupakan satwa yang dilindungi, Rusni membawa telur tersebut ke rumah dan dimasukkan ke dalam wadah. Beliau hanya berpikir untuk menghindarkan telur-telur tersebut dari ancaman dan berusaha untuk melaporkan kejadian tersebut kepada BKSDA Kalbar, Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang.

Kamis 16 Mei 2019, tibalah saatnya tukik-tukik dengan jenis penyu sisik (Eremochelys imbricata ) dilepasliarkan di sekitaran pantai dekat dengan sarang sebelumnya. Kegiatan ini dihadiri BKSDA Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Kades Pelang, FFI Ketapang, KPH Ketapang dan Balai TNGP. Jumlah tukik yang dilepasliarkan sebanyak 93 tukik, yang sebelumnya dari telur berjumlah 102, di mana di antaranya mati dan tidak menetas sempurna.

BKSDA Kalbar Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Rusni atas kepeduliannya terhadap Kelestarian lingkungan sekitar, khususnya satwa penyu.

“Saya siap bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan sekitar dan siap untuk saling membantu dalam upaya pelestarian Penyu di kab. Ketapang “ tegas Rusni. ( Jay).

Leave a Reply

Your email address will not be published.