Bentuk Protes, Warga Bangun Jembatan Sementara di Lokasi Proyek Rp 14 Miliar

Bangun Jembatan
Warga sedang membangun jembatan alternatif di lokasi proyek Jalan Sungai Awan Kiri – Tanjungpura.

KETAPANGNEWS.COM—Puluhan masyarakat dari Desa Mayak dan Desa Tanjungpura melakukan aksi gotong royong membuat jembatan sementara menggunakan kayu dilokasi Proyek Pembangunan Jalan Sungai Aawan Kiri – Tanjungpura yang terendam banjir.

Pembuatan jalan sementara tersebut bertujuan, selain untuk membantu masyarakat melintas juga sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap pelaksanaan proyek yang menguras anggaran Rp14 Miliar.

Salah satu warga Mayam, Moh Hidayat (45) mengaku sangat kecewa dengan pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Sei Awan Kiri – Tanjungpura yang masih terendam banjir.

“Bicara kecewa, kami sangat kecewa. Kami berharap pelaksana maupun pihak terkait untuk bertanggung jawab,” ungkapnya, Senin (25/11).

Sebagai bentuk protes dan kekecewaan tersebut, puluhan masyarakat dari dua desa melakukan aksi gotong royong dengan membangun jalan sementara menggunakan kayu agar bisa dilalui oleh masyarakat.

“Kemarin masyarakat sudah bangun jalan sementara, itu sebagai bentuk protes. Kita harap Dinas turun kelapangan mengecek kondisi ini dan mencari solusinya agar anggaran sebesar itu tidak sia-sia,” mintanya.

Ia menambahkan, kecewa dengan pihak pelaksana yang menuding masyarakat pekerja kayu sebagai penyebab banjir lantaran melakukan pembendungan aliran sungai. Padahal kata dia, kondisi banjir jika dilihat akibat timbunan kurang tinggi terutama diseputaran sungai mensubuk.

“Kita minta aparat penegak hukum bisa memeriksa pekerjaan ini, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Jika ada kesalahan kita harap ada sanksi tegas agar kedepan tidak ada lagi proyek  dengan anggaran besar yang terkesan mubajir,” pintanya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) sekaligus PPK Proyek itu, Arif Lukman hingga saat ini terkesan menghindari awak media yang meminta penjelasan soal proyek tersebut.

“Perencanaannya jelas kok, soal normalisasi mana saya tahu. Udah dulu, suaranya (telphon-red) tidak jelas. Saya mau jemput anak saya dulu,” ungkapnya mengakhiri telphon seraya mengatakan tidak bisa ditemui.(absa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.