
KETAPANGNEWS.COM-Di tangan-tangan kreatif perajin Kayong Utara, anyaman bukan lagi sekadar kerajinan tradisional. Ia menyimpan peluang ekonomi besar yang siap menembus pasar nasional, bahkan perlengkapan hotel berbintang.
Potensi itu mengemuka dalam kegiatan “Penguatan Potensi UMKM Lokal Kabupaten Kayong Utara” yang diinisiasi Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) pada 17-20 Oktober 2026 di Hotel Mahkota Sukadana. Selama empat hari, para perajin diajak melihat keterampilan menganyam bukan hanya sebagai warisan, tapi sebagai peluang usaha berkelanjutan.
CEO dan Founder Kampoeng Anyaman, Danang Sudrajat, yang hadir sebagai narasumber, menilai Kayong Utara punya modal yang tidak dimiliki daerah lain: keragaman produk dan keunikan bahan baku lokal.
“Produk anyaman Kayong Utara memiliki keragaman dan potensi untuk dikembangkan. Kuncinya ada tiga: pengembangan desain, peningkatan kualitas, dan pengelolaan produksi yang lebih baik,” ujar CEO dan Founder Kampoeng Anyaman, Danang Sudrajat, Selasa (28/10/2026).
Menurut Danang, langkah selanjutnya bukan lagi soal bisa menganyam, tapi bagaimana menjaga kualitas dan konsistensi agar mampu memenuhi permintaan pasar.
“Langkah berikutnya adalah mengoptimalkan manajemen dan kapasitas produksi melalui kemitraan dengan berbagai pihak, agar volume produksi meningkat dan ragam produk yang dihasilkan bisa lebih banyak,” tegasnya.
Dari Tikar Menjadi Produk Lifestyle

Peluang terbesar, kata Danang, ada pada diversifikasi. Jika selama ini anyaman identik dengan tikar, kini bisa disulap menjadi produk gaya hidup yang bernilai tambah tinggi.
Mulai dari tas etnik, kotak tisu, tempat pensil, hampers, hingga dekorasi rumah dan amenity hotel. Transformasi inilah yang akan mengangkat anyaman Kayong Utara dari pasar rumah tangga ke pasar premium.
External Relations Manager KIPP, Sugeng Sulistiyo, menegaskan komitmen KIPP untuk mengawal UMKM lokal agar naik kelas.
“Potensi UMKM lokal perlu didukung agar dapat tumbuh menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Kami berharap kerajinan anyaman Kayong Utara dapat terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas, inovasi produk, dan penguatan kapasitas usaha,” ujar Sugeng.
Ia berharap, dengan pendampingan yang konsisten dan kemitraan yang luas, anyaman Kayong Utara tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tapi tumbuh menjadi ikon ekonomi kreatif baru.
“Potensi yang dimiliki para perajin diharapkan dapat membuka peluang ekonomi jangka panjang serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutupnya.
Kini, anyaman Kayong Utara tak lagi sekadar alas duduk. Ia sedang ditenun menjadi masa depan ekonomi warga pesisir.(Jay)