Cerita Nelayan Yang Terapung Tiga Belas Jam, Akhirnya Selamat

"Adik saya sempat pasrah, tapi saya terus kasi motivasi, dalam hati saya biar mati sama-sama, hidup pun harus sama-sama, akhirnya Allah menunjukkan jalan kami menemukan mie dua bungkus dan air fanta setengah botol yang kami gunakan mengisi perut," ucap Yandi salah satu Nelayan yang selamat.

img-20161212-wa0006
Yandi salah satu nelayan yang selamat saat ditemuai di kediamananya Senin (12/12).

KETAPANGNEWS.COM -Yandi (30) satu diantara 3 nelayan pukat yang tenggelam mengaku berserah diri kepada yang maha kuasa ketika dirinya beserta abang dan adiknya mengapung sekitar tiga belas jam di laut untuk bertahan hidup dan mencoba menepi pasca kapal yang digunakannya dihantam gelombang setinggi 3 meter.

Saat ditemui, Yandi menceritakan kejadian bermula pada Minggu (11/12) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu ia beserta abang dan adiknya baru selesai menarik pukat. saat hendak menuju pulang lantaran melihat cuaca yang mulai berubah ombakpun seketika menghantam kapal yang mereka gunakan.

“Gelombang sekitar 3 meter tingginya menghantam dari belakang, kapal langsung terbalik dan tenggelam,” tuturnya, Senin (12/12).

Beruntung, saat kejadian dirinya beserta dua saudaranya berhasil memegang tutup fiber penyimpanan ikan. Dengan tutup fiber tersebut mereka bertiga terapung-apung di lautan. Yandi beserta dua saudaranya terus menanamkan keyakinan dan ikhtiar, kalau semua sudah diatur oleh yang maha kuasa. Guna menghindari kaki keram selama berendam belasan jam di air, ia harus mengerakan terus kakinya,Ia teringat cerita temannya yang pernah juga tenggelam dan mengapung di air selama 6 hari 6 malam.

“Kawan saya dulu cerita saat ia tenggelam untuk bertahan agar tidak keram harus terus menggerakkan kaki dan badan. Karena kalau didalam air beberapa jam saja kita tidak bergerak maka bisa keram, itu yang bahaya, makanya kami bertiga saling memotivasi agar terus bergerak supaya tidak keram,” ungkapnya.

Selama berada di laut, ia mengaku sempat merasa lelah dan pasrah lantaran saat malam hari angin dan arus berubah menuju laut, sehingga memungkinkan mereka yang telah mengapung dan berusaha menepi kembali ketengah laut. Hanya saja semangat dan keyakinan untuk dapat menepi terus ada, sehingga akhirnya mereka bisa perlahan-lahan menepi.

“Adik saya sempat pasrah, tapi saya terus kasi motivasi, dalam hati saya biar mati sama-sama, hidup pun harus sama-sama, akhirnya Allah menunjukkan jalan kami menemukan mie dua bungkus dan air fanta setengah botol yang kami gunakan mengisi perut,” ucapnya.

Baru sekitar pukul 01.00 WIB, mereka kemudian melihat nelayan yang merawai dan kemudian memanggil nelayan tersebut untuk kemudian menyelamatkan mereka dan membawa mereka ke tepi.

“Bicara soal trauma tentu ada, jadi ini jadi pelajaran kami, kami juga berpesan kepada nelayan lain atau masyarakat jangan pernah menganggap enteng cuaca, jangan memaksanakan kehendak melaut jika cuaca tidak bagus,” pesannya. (dra).

Leave a Reply

Your email address will not be published.