
KETAPANGNEWS.COM–Kepala Basarnas Ketapang, Kamel menjelaskan, terkait upaya pencarian terhadap nelayan yang kapalnya tengelam kemarin. Basarnas telah melakukan proses pencarian tersebut.
Terkait Sunardi keluarga korban nelayan yang tengelam, mengaku kecewa terhadap kinerja Badan SAR Nasional (Basarnas) Ketapang karena dinilai lamban. Kamel menegaskan, hal tersebut tidak benar.
“Dalam berita seolah-olah Basarnas Ketapang tak ada melakukan aksi terhadap kejadian tersebut dan laporan warga. Pada hal sebelum kaluarga korban itu melapor kita sudah mencari korban berdasarkan laporan pihak kapal yang melihat.Keluarganya juga ikut kita melakukan pencarian,” katanya kepada wartawan melalui telepon, Selasa (13/12).
Kamel mengklarikasi, karena stegmen itu ada bahasa seolah-olah SAR tidak ada melakukan aksi. Jadi seolah-olah yang mencari nelayan semua. Terkait pengkuan Sunardi ada tiga kali mendatangi Kantor Basarnas Ketapang ia membenarkan hal tersebut. Pada kedatangan Sunardi pertama pukul 16.40 WIB pihaknya juga sudah melakukan pencarian terhadap korban.
“Kalau kapal Basarnas bersandar di kapal di muara laut pada pukul 17.00, ketika itu kita sudah pulang dari melakukan pencari terhadap korban, tapi belum ketemu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pihaknya ketika itu sedang meminta data koordinat untuk memastikan tempat korban yang dilaporkan pihak kapal.
‘Kita melakukan pencarian melibatkan Pol Air dan TNI Angkatan Laut juga,” jelasnya.
Terkait korban kapal nelayan yang tengelam dan kemudian ditemukan oleh nelayan termasuk yang mukat bahwa pihaknya lah yang menginformasikan. Jika nelayan kebetulan melaut kemudian menemukan korban segera melaporkan kepada pihaknya.
“Itu nelayan yang tambat di depan kita semua,” ucapnya.
Menurutnya, kalau sudah jelas titik temunya korban maka akan diusahakan.Tapi kalau pihaknya mencari dalam kondisi malam, pandangan terbatas itu kan tidak memungkinkan.
“Apalagi ombak segitu besarnya, kan beresiko buat kita,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, apalagi ada bahasa dalam berita, SAR memiliki perlatan canggih dan harus mampu disegala medan itu kan sebenarnya “tanda kutip”. Kapal besar saja sudah keteteran apalagi pihaknya.
“Kalau perkara menemukan nelayan itu bentuk usaha kita bersama. Bukan semata-mata orang hilang harus kita yang menemukan, bukan seperti itu. Kalau stegmen itu, seolah-olah harus orang SAR yang mengambil atau menemukanya,” ujarnya. (dra)