Tanggul Jebol, Ratusan Hektar Lahan Pertanian Terancam Gagal Panen

ilustrasi-tanggul-jebol
Lahan pertanian terendam air-Net

KETAPANGNEWS.COM – Ratusan hektar lahan pertanian terancam terendam air luat. Bahkan, padi yang telah ditanam terancam rusak dan gagal panen. Pasalnya tanggul penahan air laut di Desa Sukabaru Kecamatan Benua Kayong jebol. Tanggul yang terbuat dari tanah itu tak mampu menahan gelombang laut.

Sekretaris Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sukabaru Kecamatan Benua Kayong, Abdul Muthalib, mengatakan, setidaknya ada tiga titik tanggul yang telah jebol tak mampu menahan tekanan air laut.  Jebolnya tanggul ini sudah sekitar seminggu yang lalu.

Ia mengunkapkan, tanggul penahan air laut ini jebol, akan sangat merugikan petani, khususnya di sekitar Desa Sukabaru dan Celincing. Pasalnya, air akan langsung masuk ke lahan pertanian. Saat ini ratusan hektar sawah sudah ditanami padi. Bisa gagal panen kalau sampai masuk ke sawah.

“Di Desa Sukabaru ada 8 kelompok tani. Masing-masing kelompok tani mengelola lahan antara 25 sampai 30 hektar. Hampir semua lahan sudah ditanam, karena sudah masuk musim tanam. Bahkan sebagian tanaman padi juga sudah mulai berbunga. Dan dalam waktu dekat akan segera panen. Namun, jika air laut masuk maka rencana panen akan gagal,’’ Katanya Kamis (15/12).

Ia menjelaskan, tanggul penahan air laut tersebut dibangun awal Oktober. Sumber dana berasal dari APBD Provinsi Kalbar 2016. Panjang tanggul lebih dari 20 kilometer yang sengaja dibangun untuk menahan air laut agar tidak masuk ke lahan pertanian. Tapi belum lama dibangun sudah jebol.

Menurutnya, selain sudah ada tiga titik tanggul yang jebol, banyak titik tanggul yang ketinggiannya tidak sesuai. Akibatnya, saat musim air pasang laut seperti sekarang ini, air laut tetap bisa melewati tanggul. Hal itu pun sudah dilaporkan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pertanian dan Peternakan Ketapang.

“ Namun, tidak ada solusi. Karena tanggul tersebut proyek Provinsi,”ungkapnya.

Ia mengatakan, sementara kontraktor sampai saat ini tidak mengambil tindakan apa-apa. Pihaknya juga tidak tahu harus melapor kepada siapa lagi. Saat kontraktor selesai mengerjakan, juga tidak ada serah terima dengan pihak desa.

“Jadi kami tidak tahu di mana kontraktornya,” kata Muthalib.

Untuk mengantisipasi agar air laut tidak begitu banyak yang masuk ke areal persawahan, pihak desa membangun tanggul cadangan di sekitar tanggul yang jebol. Para petani tidak berani memperbaiki tanggul yang rusak atau yang kurang tinggi.” Karena itu proyek. Takut nanti malah jadi temuan,” tuturnya.

Ia menuturkan, jadi masyarakat mengambil langkah dengan membuat tanggul cadangan di dalam tanggul yang sudah dibangun itu menggunakan dana desa. Tapi, tanggul yang dibangun ini hanya sebatas tanggul penahan sementara.

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar pihak terkait segera memperbaiki tanggul tersebut. Karena menurutnya, ini juga masih menjadi tanggung jawab kontraktor, karena masih masa perawatan.

“ Jadi, kami harap kontraktor segera memperbaiki sebelum kerusakan terlanjur parah. Jika dibiarkan, ratusan hektar sawah akan rusak,” harapnya. (dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published.