KETAPANGNEWS.COM, Jakarta—Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tentang pembatasan Imigran Muslim tidak beralasan kuat melindungi rakyat amerika dari ekstrimisme dan radikalisme. Justru kebijakan tersebut dinilai sangat politis dan tidak mendasar.
Hal tersebut ditegaskan Vice President Asean Muslim Students Association(AMSA), Sarief Saefulloh melalui pres rilisnya kepada Ketapangnews.com, Sabtu (4/2).
“Hampir seluruh kebijakannya bertentang dengan kebijakan yang telah dikeluarkan presiden-presiden AS sebelumnya, khususnya Barack Obama,” kata Sarief Saefulloh.
Sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, menurut Sarief sepatutnya Trump mampu menjaga nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan yang telah melekat pada rakyat amerika, bukan malah mencederainya.
Kepemimpinan Trump yang telah genap dua pekan menjabat sebagai Presiden AS sepatutnya menjaga perdamaian global dengan tidak mengeluarkan kebijakan otoritatif yang memicu terjadinya konflik international.
“Kebijakan ini akan memunculkan banyak sekte dan ekstrimisme keagamaan. Tidak hanya itu, kerukunan beragamapun akan lekat dengan radikalisme dan itu berbahaya jika dibiarkan. Sehingga bisa menimbulkan konflik panjang. Negeri Paman Sam diprediksi akan mengalami instabilitas nasional dan posisi AS terancam di dunia global,” ungkap Sarief.
Analisa Jika Kebijakan Pembatasan Trump Dilanjutkan
Pertama, Secara politis, posisi AS di dunia akan terancam,khususnya negara-negara muslim. Hal tersebut telah dibuktikan munculnya kecaman dari OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang terdiri dari negara-negara muslim.
Kedua, Secara sosiologis, Trump telah mencederai nilai-nilai agung demokrasi dan kemanusiaan, negara demokrasi terbesar di dunia akan mengalami konflik nasional berkepanjangan atas kebijakan Trump yang di nilai tidak demokratis.
Kecaman tersebut muncul dari berbagai kalangan seperti masyarakat sipil, birokrat, penegak hukum hingga pejabat-pejabat di negara-negara bagian Amerika. Jika ini dibiarkan Muslim di Amerika akan terancam hilang, dan perang agama akan sulit di hentikan. Contoh, Masjid di Mexico yang sengaja dibakar oleh kelompok ekstrimis agama tertentu.
Ketiga, secara ekonomi kebijakan Trump sangat mempengaruhi perekonomian Amerika. Jika terjadi instabilitas nasional dan konflik global berkepanjangan, maka AS terancam akan mengalami krisis ekonomi dengan penurunan daya jual nasional, ekspor dan investasi melonjak turun dan lain-lain.
Ke empat, secara demokrasi, alasan Trump mengeluarkan kebijakan pembatasan Imigran Muslim tidak mendasar dan kuat muatan politis. kebijakan tersebut menentang segala tindakan presiden sebelumnya Barack Obama yang menurutnya, terlalu ikut campur dalam kehidupan radikalisme dan terorisme di negera-negara konflik khususnya timur tengah (tujuh negara) yang telah memakan banyak korban militer, keuangan negara dan mengancam keamanan rakyat Amerika.
Kelima, secara ideologis, Kebijakan Trump ini akan memunculkan banyak sekte dan ekstrimisme keagamanan. Tidak hanya itu, bahkan kerukunan beragamapun akan lekat dengan radikalisme dan itu berbahaya jika dibiarkan akan menimbulkan konflik di negara-negara timur tengah ( tujuh negara)
“Dengan pertimbangan itu, sesungguhnya kebijakan Trump sangat tidak mendasar dan merugikan negaranya sendiri. Trump perlu mengkaji ulang kebijakannya agar Amerika tidak terancam di dunia global dan posisinya sebagai Presiden AS,” ujarnya.
Sebagai negara yang menjunjung toleransi dan persamaan sejatinya Trump mampu menjaga nilai luhur demokrasi, memberi perlindungan dan keamanan secara adil dan menghindari konflik keagamaan yang berujung pada perpecahan.(absa)