
KETAPANGNEWS.COM – Ketua Perkumpulan Bihak Sekayuq, Sabinus Andi meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ketapang agar dapat mengakomodir dan memprioritaskan putra-putri pedalaman dalam penerimaan tenaga kontrak non Pegawai Negeri Sipil (PNS,). Khususnya tenaga guru dan medis yang akan digelar lewat tes oleh Badan Kepegawaian Daerah dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Sabinus menilai jika selama ini hampir ditiap pedalaman yang ada jumlah tenaga guru dan medis masih sangat kurang. Meskipun ada ia menilai tenaga guru dan medis yang bukan dari wilayah setempat cenderung tidak betah lantaran kondisi pedalaman yang memang sepi, minim fasilitas sarana dan prasarana dan faktor lainnya.
“Selama ini kecenderungan tidak betah terhadap lokasi pengabdian dipedalaman memang terjadi, itu berpengaruh terhadap pelayanan terhadap masyarakat,” katanya Minggu (5/2).
Untuk itu, dalam penerimaan tenaga kontrak non PNS kali ini, ia berharap agar Pemda dapat mengakomodir dan memprioritaskan para putra daerah pedalaman agar dapat diterima menjadi tenaga kontrak non PNS khususnya untuk tenaga guru dan medis lantaran para putra daerah pedalaman tentu dapat dengan mudah beradaptasi dengan wilayah sendiri dan tentu memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat tempat asalnya.
“Tapi tentu putra pedalaman yang dipilih dan jadi prioritas yang memiliki kwalitas dan niat besar untuk mengabdi dan poin lainnya kecenderungan tidak betah kecil karena mereka ditugaskan dikampung halaman yang notabane secara adaptasi mereka akan mudah beradaptasi,” jelasnya.
Iapun berharap, agar para pelamar tes penerimaan tenaga kontrak non PNS untuk dapat mengisi seluruh formasi yang dibuka Pemda sehingga tidak terjadi penumpukan lamaran diwilayah perkotaan. Jika terjadi penumpukan maka ia menilai akan banyak pelamar yang tidak lulus serta akan ada formasi-formasi di pedalaman yang tidak terisi.
“Karena setiap formasi baik di kota atau pedalaman memiliki kuota tertentu, jika banyak pelamar melamar di wilayah perkotaan dan membuat formasi dipedalaman pelamarnya kurang, otomatis pelamar yang menumpuk dikota tidak semua lulus sebab formasi sesuai kuota yang ditentukan kemudian formasi di pedalaman tidak terisi semua karena pelamar tidak cukup, apalagi infonya para pelamar cuma diperbolehkan melamar di salah satu formasi saja,” pungkasnya.(dra)