
KETAPANGNEWS.COM – Kegiatan penghitungan burung air se-Asia atau Asian Waterbird Census (AWC) yang telah diselenggarakan sejaktahun 1986, dilaksanakan setiap bulan Januari setiap tahunnya merupakan momen penting dalam mengetahui keberagaman jenis, populasi, dan keberadaan dari burung air serta hubungan dengan habitat, berupa lahan basah.
Pelaksanaan Penghitungan burung air se-Asia untuk tahun 2017 di Indonesia kali ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara serentak mulai tanggal 7 hingga 22 januari 2017 yang dikordinir oleh Wetlands International Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Di KabupatenKetapang, Kalimantan Barat, kegiatan ini dilaksanakan secara sukarela oleh kelompok Konservasi Biodiversitas Ketapang, yang lebih dikenal sebagai Kawan Burung Ketapang (KBK). Dimulai dari tanggal 7 januari 2017, berlokasi di pantai paling selatan Kalimantan Barat, yaitu di Kecamatan Kendawangan.
Alasan tempat ini dimulainya penghitungan burung air, menurut Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK, karena merupakan titik persinggahan terakhir burung-burung yang akan bermigrasi keselatan.Sehingga sebelum mereka (burung air,red) meninggalkan Kalimantan Barat jenis dan populasi mereka telah tercatat dalam kegiatan ini.
Kemudian akan dilanjutkan ke Kecamatan Matan Hilir Selatan, Benua Kayong, dan Kecamatan Muara Pawan. “Kita berharap sampai tanggal 22 januari nanti bisa menyeleselesaikan kegiatan penghitungan burung air di titik-titik yang sudah di rencanakan,” katanya Senin (9/1).
Ia menjelaskan,sebagian besar burung air merupakan burung migrasi. Ketika terjadi musim dingin belahan bumibagian utara, burung-burung ini bermigrasi kebelahanan bumi selatan. Selain menghindari musim dingin di tempatnya, mereka juga mencari makan yang berlimpah di daerah persinggahan selama melewatkan musim dingin (wintering).
Pria yang akrab disapa Wak Doi ini mengatakan, biasanya burung bermigrasi antara Agustus hingga April. Pada bulan Mei mereka kembali saat belahan bumi utara menjadi hangat, dan akan dimulainya musim berbiak (breeding).
Selain untuk mengetahui keragaman jenis dan populasi burung-burung air dan kemudian melakukan upaya konservasi, kegiatan ini juga dilaksanakan oleh KBK sebagai upaya untuk memberikan penyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kegiatan ini dilakukan. Burung air merupakan indicator kesehatan lingkungan di lahan basah.
Hal ini sangat bermanfaat bagi pertanian dan perikanan yang memberi dampak pada ke hidupan manusia. Sudah sejak lama masyarakat pantai memanfaatkan lahan basah untuk membudidayakan padi sebagai bahan pangan utama. Dan menjadikan tempat yang cocok untuk budidaya ikan yang menjadi pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi manusia, tentunya ketika lahan basah masih terjaga.
Inilah yang menjadikan burung air sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan lahan basah. Walau ada beberapa jenis burung air yang dianggap sebagai hama, tapi nyata keberadaan mereka sebagai bagian dari matarantai ekosistem. Sudah semestinya kearipan lokal yang telah dipakaisecara turun temurun perlu diterapkan kembali.
“Sejauh kegiatan ini kita lakukan, kita telah mencatat 30 jenis dan lebih dari 1.597 Individu burung air,” tambah Erik Sulidra, pengamat burung dari KBK yang juga ikut menghitung dan mendokumentasikan.(dra)
Salut buat KBK…berdedikasi.. mari dukung penyelamatan habitat burung migran di Ketapang.