Distributor Ragu-Ragu, Bantuan Pupuk Petani Terlambat

“Kita sudah buat jadwal tanam. Tapi kenyataannya, ada barang yang belum datang dan tidak tepat waktu," jelas KaBid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Ketapang Akhmad Humaidi

petani-ok
Petani menanam padi-NET

KETAPANGNEWS.COM – Petani di Kecamatan Matan Hilir Selatan,mengeluhkan bantuan program Hazton berupa bibit padi, pupuk dan racun.Antara Agustus-September 2016, bantuan berupa bibit dan racun sudah diterima. Sementara untuk pupuk baru diterima oleh mereka di akhir bulan Februari 2017. Untuk pupuk ini sangat telat datangnya.

Oleh karena itu, para petani mempertanyakan keterlambatan kedatangan bantuan pupuk ini. Pasalnya, musim tanam sudah lewat. Bahkan, padi yang ditanam di bulan Agustus 2016 sudah dipanen. Seharusnya bantuannya datang serempak. Bibit ditanam, dipupuk dan semprot pakai racun jika ada hama.

Salah satu petani di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Adi, mengatakan, ia dan kelompok taninya mendapatkan bantuan untuk program Hazton. Bantuan tersebut didapatkan diterima pada akhir tahun 2016 kemarin. Bantuannya untuk tanam musim rendeng (hujan; red) kemarin.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Ketapang, Akhmad Humaidi, mengatakan, memang terjadi keterlambatan untuk kedatangan bantuan pupuk untuk program Hazton. Bantuan yang seharusnya datang bersamaan pada musim tanam, justru baru datang di bulan Fabruari. Bantuan ini merupakan dari pemerintah, bukan kontraktual. Domainnya di distributor dengan petani.

“Kita sudah buat jadwal tanam. Tapi kenyataannya, ada barang yang belum datang dan tidak tepat waktu,” jelas Humaidi kepada wartawan Kamis (2/3).

Menurutnya, keterlambatan ini disebabkan oleh keragu-raguan distributor untuk menyalurkan bantuan ke petani. Distributor ragu menyalurkan bantuan ke petani , karena ada wacana pemangkasan anggaran beberapa waktu lalu. Khawatir anggaran untuk bantuan ini dipangkas, distributor memilih untuk tidak mengirimkan pupuk terlebih dahulu.

“Tapi kenyataannya anggarannya tidak dipangkas,” jelasnya.

Humaidi menjelaskan, untuk teknis penyaluran bantuan ini dilakukan langsung oleh Pusat ke petani berupa uang tunai. Uang tersebut digunakan untuk membeli benih, pupuk dan racun kepada distributor yang telah ditunjuk. Droping bantuan dari distributor juga langsung ke petani.

“Untuk proses pembayarannya dilakukan setelah barang dikirim. Sementara distributor tidak berani droping barang khawatir anggaran di petani dipangkas. Akan tetapi, bantuan untuk program ini tidak dipangkas. Sebelum ada isu pemotongan anggaran, droping bantuan selalu lancar,” ungkap Humaidi.

Ia juga mengeluhkan, masih ada petani yang tidak menyetor ke distributor, padahal barang sudah dikirim. Ia berharap, hal seperti ini tidak terjadi lagi. Ia berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi. Mulai dari keterlambatan penyaluran bantuan termasuk petani yang belum transfer uang, padahal barang sudah dikirim.

“Bantuan pupuk yang datang terlambat ini, boleh digunakan untuk musim tanam berikutnya. Karena bantuan tersebut memang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas beras. kitaberharap, petani mau menggunakan teknologi Hazton ini,” pungkasnya. (dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published.