
KETAPANGNEWS.COM-Dalam upaya mendukung kebijakan Pemerintah percepatan Restorasi Gambut Nasional, International Animal Rescue ( IAR) Indonesia bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Ketapang melaksanakan paparan publik dengan tema ” Nilai penting ekosistem gambut bagi kehidupan” Sabtu (13/5) kemarin bertempat di aula Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan Ketapang.
drh. Adi Irawan dalam sambutannya mengatakan, paparan publik ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada seluruh masyarakat, karena ekosistem gambut merupakan aset istimewa dan terpenting bangsa indonesia khususnya Ketapang.
“Sudah selayaknya kita memelihara serta menjaga agar ekosistem ini tetap lestari,” kata Adi Irawan.
Ia menjelaskan, yang perlu kita apresiasi dan didukung adalah keseriusan Pemerintah dengan menerbitkan aturan untuk merestorasi gambut ini.
“Bahwa yang terpenting konservasi merupakan penyeimbang alam, sudah pasti bermanfat besar bagi kehidupan,” tegasnya.

Paparan publik yang dihadiri 53 peserta ini merupakan perwakilan dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Kecamatan, Desa, Perusahaan, Media, LSM dan tokoh masyarakat. Sementara nara sumber menghadirkan ahli gambut dari Universitas Tanjungpura Profesor DR.Gusti Zakaria Anshari.MES.Phd.
Dalam paparannya DR Gusti Zakaria menyampaikan Indonesia diperkirakan memiliki luasan gambut sekitar 14 juta hektare yang didominasi disekitaran dataran rendah seperti di Ketapang.
“Memang ada di dataran tinggi namun rata- rata di daerah jawa seperti di Dieng, Ciamis. Gambut tropis yang terbesar ada di Indonesia,” paparnya.
Ia menjelaskan, Kalimantan Barat hampir 1,6 juta hektare luasan gambutnya berada di Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, Sambas, Mempawah, Kapuas Hulu sebagian berada di pesisir.
“Gambut di Ketapang sendiri memiliki luas antara 400.000 s 450.000 HA atau 24 – 27 persen dari total gambut di Kalbar.Tipe gambut di Ketapang gambut cekungan, kerapah atau kerangas, air payau,” ujar Dosen Imu Tanah fakultas Pertanian Untan ini.
Gusti kembali memaparkan, gambut yang terbentuk dari pelapukan benda organik, seperti kayu, makhluk hidup ratusan tahun memiliki fungsi penting sebagai tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan hewan, tempat penyimpanan air, tempat penyimpanan karbon. Gambut dapat menyimpan antara 300 kali sampai 1500 kali dari berat kering bahan organik yang menyusun gambut.
“Permasalahannya jika gambut itu kering rentan sekali terbakar, jika adanya kebakaran sebagian besar karbon dalam gambut akan terlepas dan menjadi gas CO2 atau Karbondioksida,” ucapnya.
Gusti menegaskan, dampaknya jika kerusakan gambut terjadi akan berdampak pada punahnya species makhluk hidup dan percepatan perubahan iklim secara kumulatif serta kerusakan gambut akan merugikan manusia.
Diakhir paparannya, anggota Kelompok Ahli Badan Restorasi Gambut ( BRG) ini menyampaikan ucapan terimakasih kepada IAR dan masyarakat yang berkenan untuk berbagi ilmu bersama.
“Semoga bisa bermanfaat untuk masyarakat Ketapang,” tutupnya.(dra).