
KETAPANGNEWS.COM–Nama ale-ale ditelinga Masyarakat Ketapang bukanlah hal baru. Selain merupakan makanan khas, hewan laut jenis family molusca tersebut juga dijadikan simbol kota Ketapang atau lebih dikenal tugu ale-ale.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Ketapang, Yudo Sudarto mengatakan, Ketapang memiliki berbagai produk khas yang kemungkinan tidak ada di tempat lain. Salah satunya, ale-ale yang saat ini menjadi khas makanan Kota Ketapang.
“Selain makanan khas, ale-ale juga dijadikan simbol Ketapang dengan sebutan Kota Ale-ale,” kata Yudo Sudarto, Selasa (1/8).
Menurut dia, meski di daerah lain ada hewan sejenis, tapi tidak sama dengan Ale-ale di Ketapang. Terlebih Ale-ale Ketapang hanya didapat dari Sungai Pawan Ketapang. Selain itu, makanan khas Ketapang terbuat dari Ale-ale ini juga menjadi salah satu sumber protein hewani bagi masyarat Ketapang.
“Ale-ale bisa diolah menjadi berbagai macam masakan. Seperti disambal, tumis, serundeng, kuah kental, asam garam, sate dan lain-lain. Bahkan bisa langsung direbus dengan garam atau dijadikan sop,” tuturnya.
Tidak hanya itu, dengan bentuknya mirip remis yang ukurannya lebih kecil, cengkangnya yang keras juga bisa dimanfaatkan bagi pengrajin tangan. Diantaranya sebagai hiasan rumah dan lain sebagainnya.
Menurut tokoh masyarakat yang saat ini aktif di pertanian ini, kuliner ini sudah cukup lama ada di Ketapang.Terlebih sering dijadikan oleh-oleh untuk masyarakat luar Ketapang.
“Oleh karenanya cukup banyak masyarakat mengantungkan hidupnya mencari hewan jenis kerang ini. Terlebih biasanya perorang bisa mendapat 10 sampai 15 Kg,”ujarnya.
Sementara untuk mendapatkan ale-ale, diungkapkannya pada musim air surut lantaran merupakan musimnya. Sehingga penghasilan dari yang mencaripun lebih banyak.
“Lebih mudah ketika air surut dibanding air pasang. Makanya saat kemarau pendapatan masyarakat pencari Ale-ale lebih banyak,” tutupnya.(absa).