
KETAPANGNEWS.COM – Sejumlah kelompok tani di Ketapang mengeluhkan langkanya pupuk bersubsidi. Selain itu beberapa kelompok tani juga mengeluhkan tidak adanya bantuan mesin air untuk kebutuhan bertani mereka.
“Kalau untuk pupuk sendiri para petani membeli di pasaran dan bukan merupakan pupuk subsidi sehingga harga di pasaran cukup tinggi lantaran mencapai Rp 135 hingga Rp 150 ribu per saknya,” kata Sarahadi, satu diantara petani di Kelompok Tani Berkat Usaha di Desa Sungai Kinjil Kamis (10/8).
Ia mengaku, tidak tahu beli pupuk subsidi dimana dan bagaimana caranya, makanya petani beli di toko-toko pertanian.
Sarahadi menuturkan, dalam satu sak terdapat sekitar 50 kilo pupuk, kelompoknya membeli menyesuaikan dengan kebutuhan lahan setiap petani.
Menurutnya, bagi petani meskipun harus merogoh kocek asalkan stok pupuk tersedia, lantaran untuk di Ketapang menjelang musim tanam petani kesusahan mencari pupuk.
“Tetapi jika tidak musim tanam pupuk mudah dicari. Mungkin karena saat musim tanam kebutuhan meningkat sedangkan stok pupuk mungkin sedikit, makanya susah dicari,” ucapnya.
Ia menambahkan, selama ini pihaknya tidak pernah membeli langsung pupuk subsidi, namun pernah mendapat bantuan seperti hazton walaupun belum semuanya terbantu.
“Selain mengenai persoalan pupuk subsidi, kami juga terkendala mengenai air lantaran saat musim kemarau petani harus beristirahat melakukan penanaman,” katanya.
Ia berharap, selain bantuan pupuk subsidi juga bantuan sarana dan prasarana guna menunjang pertanian khususnya mengenai persoalan air.
Sementara Mustayam satu diantara Kelompok Tani Tanjung Pesisir di Desa Sungai Kinjil, mengaku kalau untuk pupuk subsidi pada tahun ini tidak mendapatkanya, sehingga kelompok taninya harus membeli pupuk yang dijual di pasaran.
“Untuk pupuk subsidi tahun kemarin kita ada dapat, tapi tahun ini tidak ada dapat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, untuk harga pupuk di pasaran bervariasi dari Rp 3 ribu perkilonya hingga Rp 12 ribu perkilonya. Namun diakuinya selama persediaan pupuk ada pihaknya berusaha untuk mencari biaya membelinya daripada persediaan pupuk tidak ada lantaran dapat menggagalkan apa yang mereka tanam.
Menurutnya, persoalan lain yang sangat penting mengenai air di lahan pertanian, pihaknya telah mengajukan proposal guna meminta bantuan mesin air pada tahun 2015.
“Namun sampai sekarang bantuan tersebut tidak ada, untuk itu saya berharap Pemda dapat membantu mesin air untuk menanggulangi persoalan air di lahan mereka,” ujarnya.
Ia berharap, selain bantuan pupuk subsidi, juga ada bantuan mesin air karena kelompok kami memang belum pernah ada dapat bantuan pertanian.(dra)