
KETAPANGNEWS.COM – Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan gagal tumbuh, gagal kembang dan metabolisme pada anak balita. Terutama 1.000 hari pertama sejak dalam kandungan.
Persoalan ini menjadi persoalan serius yang melanda masyarakat miskin di beberapa Kabupaten di Indonesia, bahkan Kabupaten Ketapang merupakan salah satu kabupaten yang menjadi skala prioritas untuk ditangani, bersama Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Lanny jaya, Lombok Tengah, Rokan Hulu, Cianjur, Pemalang, Brebes, Gorontalo, dan Lampung Tengah.
Dalam menangani kasus stunting ini, Selasa (27/2) siang, Bupati Ketapang, Martin Rantan SH menerima audiensi dari Kepala Perwakilan BKKBN Kalbar, Rektor Universitas Muhamadiyah Pontianak. Dekan Fakultas Ilmu Kemasyarakatan Universitas Muhamadiyah Pontianak dan Ketua PWG Kalbar. Audiensi di pendopo rumah dinas Bupati Ketapang dihadiri juga kepala Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ketapang.
Hadirnya Kepala BKKBN Kalbar bersama jajaran Universitas Muhamadiyah di Kabupaten Ketapang diberikan apresiasi oleh Bupati Ketapang. Semoga dengan penanganan kasus stunting ini, mudah-mudahan dapat diaplikasikan sehingga dapat memberdayakan masyarakat Ketapang, umumnya di Kalbar dalam upaya menciptakan masyarakat yang maju dan sejatera.
“Saya hanya memberikan pengantar dan ucapan selamat datang, silakan sampaikan maksud audiensi ini, untuk lebih mempertajam pokok persoalan dapat kita sampaikan dalam sesi dialog,” tegas Bupati Ketapang.
Kerjasama BKKBN Kalbar dan Universitas Muhamadiyah Pontianak dalam menangani kasus stunting, dikatakan Bupati Ketapang juga selaras dengan program nasional.
Dimana, dirinya mendapat surat dari Sekretariat Negara bahwa Kabupaten Ketapang akan menjadi salah satu kabupaten yang akan mendapat alokasi penganggaran mengatasi kasus stunting ini.
“Dalam menangani persoalan gizi kronis sehingga menyebabkan anak tumbuh kerdil ini, ada harapan dari Presiden, agar persoalan ini bisa dituntaskan,” ujar Martin Rantan.
Program nasional menangani stunting, disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Kalbar, Drs Kusmana bahwa BKKBN sudah kerjasama dengan dinas kesehatan, PUTR, dan lain sebagainya.Dalam menangani stunting, diterangkannya BKKBN Kalbar bekerjasama dengan Universitas Muhamadiyah. Ini merupakan satu-satunya universitas yang ada di Kalbar dimana mata kuliah reproduksi menjadi salah satu mata kuliah dasar yang diwajibkan.
Dalam mengatasi stunting ini tentunya banyak pihak dilibatkan, termasuk juga melibatkan mahasiswa dalam PKM selama 2 bulan. Karena itu, para mahasiswa yang melakukan PKM ini diarahkan mengawal ibu-ibu hamil dalam penanganan gizi, imunisasi bahkan sampai balita berusia dua tahun.
Panjang lebar ia memaparkan upaya dan langkah mengatasi stunting di Kalbar, termasuk pentingnuya mengarahkan kampung keluarga berencana, dimana melibatkan semua institusi secara bersama-sama dalam menyelesaikan persoalan pembangunan.
“Terkait dengan adanya rencana hibah dari APBN, kami menyarankan agar diarahkan pada Kampung Keluarga Berencana,” katanya. (Adv/dra)