Tausiyah Habib Luthfi Bin Yahya Dihadapan 15 Ribu Jemaah

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhamad SAW

DSC_7436
Habib Luthfi Bin Yahya menyampaikan tausiah di Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhamad SAW 139 H/2018 di Kompleks Masjid Agung Al-Ikhlas Kabupaten Ketapang, Selasa (17/8) malam.

KETAPANGNEWS.COM-Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhamad SAW 139 H/2018 di Kompleks Masjid Agung Al-Ikhlas Kabupaten Ketapang, Selasa (17/8) malam.dihadiri ribuan jemaah. Halaman Masjid Agung Agung Al-Ikhlas penuh sesak oleh jemaah yang ingin mendengarkan langsung tausiah dari Habib Luthfi Bin Yahya.

Dalam pengajian akbar ini dihadiri juga Kapolda Kalbar, Irjen (Pol) Didi Haryono, bersama Bupati Ketapang Martin Rantan, SH, Wakil Bupati Ketapang, Dandim 1203 Ketapang, Kapolres dan jajaran Forkopimda.

Dari habis sholat isya, sedikitnya 15 ribu jemaah sudah memadati lokasi tausiyah. Tak hanya halaman, bahkan di sekitar kawasan masjid juga dipenuhi jemaah. Sebelum tausiyah dimulai, diisi terlebih dahulu dengan dikumandangkannya sholawat.

Tausiyah dari Habib Luthfi, diawali ucapan syukur kepada Allah SWT, selanjutnya.menyampaikan Indonesia yang luar biasa. Mengapa dikatakan luar biasa.di Indonesia. Karena, apa yang dilakukan di Indonesia, banyak tidak
dilakukan di negara-negara yang lain.

Di Indonesia peringatan Maulid.Nabi ditempatkan di Istana, atau ditempatkan di tempat yang terhormat. Peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW juga diperingati di negara-negara Yaman, Arab Saudi, Mesir dan lain-lain. Tetapi selain itu, peringatan Isra Mi’raj sebagian besar dilakuan di bumi pertiwi ini. Tidak cukup hanya itu, peringatan 10 November, hari pahlawan ikut banyak unsur ulama, tokoh agama, dan masyarakat dari lapisan atas sampai kalangan bawah terpanggil semua untuk bangsa supaya mendapat kememerdekaan. Begitu juga peringatan hari lahir Kartini juga diperingati. Ini semua tidak lepas dari mengucapkan terima kasih.

“Ucapan syukur paling mudah
kita ucapkan, sesuai bahasa terima kasih, hatur nuhun dan lain sebagainya. Ucapan yang bermakna terima kasih. Akan tetapi, apakah kita mampu mengamalkan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Itu yang paling sulit,” ujarnya.

Ia mencontohkan seorang anak mengerti terima kasih pada orang tua. Karena mau mengerti sejarah riwayat hidup orang tua, ada yang mengerti orang tua asal-usulnya. Ditulis dengan indah untuk memaknai kasih sayang kedua orang tua. Ada yang mau menulis dengan indah sebagai bentuk menghargai jerih payah kedua orang tua membesarkan
putra-putrinya. Dengan mengerti kasih sayang kedua orang tuanya, ia mau mengeroksi sekaligus intropeksi terhadap dirinya sendiri. Selain contoh kecil tersebut, maka kembali Habib Luthfui bin Yahya menyebutkan kondisi bangsa setelah merdeka. Membangun bangsa ini tidak mudah, dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, apa yang dialami orangtua kita pada masa lalu, sekolah hanya dibatasi penjajah sampai kelas tiga SR (sekolah rakyat). Itu hanya sekedar untuk membaca dan menulis.

Isra' Mikraj
Ribuan jamaah menghadiri Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhamad SAW 139 H/2018 di Kompleks Masjid Agung Al-Ikhlas Kabupaten Ketapang, Selasa (17/8) malam.

Dari sejarah menuliskan bahwa bangsa Indonesia adalah kategori sangat cerdas. Ini dibuktikan dengan Gajahmada, dimana bangsa ini bisa menaklukkan Srilangka, sampai Indocina. Padahal ketika itu peralatan serba terbatas. Mengapa bisa menyatukan nusantara, ini menunjukkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang luar biasa.

“Rakyatnya saja tentara, bagaimana tentara dan polisinya. Inilah luar biasa untuk bangsa kita, diperhitungkan Kekuatannya,” ucapnya.

Kemudian ia mengupas, bangsa ini sudah melahirkan sosok sosok luar
biasa. Pada abad ke sembilan hijriah terdapat Maha Guru Besar di Masjidil Haram, yaitu Syeach Abdullah Al Massud Al Jawi. Begitu juga, pada abad ke 12 Hijriah terdapat tokoh tarekat yang luar
biasa, yang tidak jauh dari Ketapang ini. Tokoh ini diangkat dan diambil guru besar dari Hedralmaut, Mesir, India. Dari segala penjuru dunia mengenal Syech Khatib Ahmad Sambas, yang mengajarkan tarekat qodariyah.

”Yang mengajarkan kita ingat kepada yang Maha Kuasa. Yang mengajarkan apa yang kita perbuat selalu dilihat dan didengar oleh Yang Maha Kuasa. Apa bila ini sudah tumbuh, maka kita akan memperhitungkan segala bentuk bicara, rasa, perbuatan dan segalanya, kalau itu sudah tumbuh dihati kita, malu rasanya kalau masih melontarkan kata-kata yang kurang terpuji. Saya ikut bangga kepada beliau, karena saya juga menjadi bagian dari tarikat yang beliau ajarkan,” kata Habib Luthfi bin Yahya.

Begitu juga dengan sosok syech Muhamad Albanjari, Muhamad Nafis di Martapura, Habib Husen di Mempawah, dan lain sebagainya. Banyak sekali mutiara-mutiara terpendam dari Kalimantan. Tetapi selama ini, yang baru muncul hanya Kecubungnya dari kalimantan.

“Mudah-mudahan cepat-cepat mutiaranya keluar,” ucapnya.

Ia menyebutkan banyak tokoh luar biasa dari Indonesia, baik di NASA, maupun ahli dibidangnya. Namun, Habib Luthfi bin Yahya mengakui lebih bangga dengan ayah ibu yang melahirkan tokoh-tokoh luar biasa tersebut. Jerih payahnya membesarkan dan mendidik kita sangat luar biasa. Karena itu, ketika ziarah, maka akan muncul rasa penyesalan pada diri kita. Mengapa mereka sudah dipanggil Ilahi sebelum diri kita menjadi sosok yang bisa dibanggakannya.

Dari masalah-masalah yang kecil diuraikannya satu persatu, hingga akhirnya usai mengupas sosok Rasulullah SAW, berikut suri tauladannya. Sebelum mengupas tentang keteladanan rasulullah SAW, terlebih dahulu ia mengupas peranan wali sembilan, dalam menghadapi penjajah dan menegakkan syiar Islam. Salah
satunya mengupas sosok sunan Ampel.

Kaitan dengan bangsa yang saat ini, mudah berantam, kehilangan jati
diri.dikupasnya juga. Termasuk juga mempererat ukhuwah islamiyah dipaparkannya panjang lebar. Saling keterkaitan dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Ia mengajak agar jemaah kompak. Dengan ukhuwah yang kompak pada jati diri Muslim, hakikatnya adalah lebih kuat dari nuklir. Karena irtulah, ia menyebutkan pentingnya menanamkan cinta tanah air. Menanmakan cinta tanah air, sebenarnya sudah ditanamkan dari Rasulullah SAW. Jika kita menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhamad SAW, Habib Luthfi bin Yahya yakin tidak ada saling bertempur di dunia ini. Karena saling hormat dan menghormati.

Akan tetapi, karena tidak kompak maka mudah terprovokasi oknum-oknum tertentu sehingga sesama saudara seiman saling bertempur sebagaimana terjadi di Timur Tengah dan lain sebagainya. Panjang lebar ia mengupas suri ketauladan Nabi Muhamad SAW dalam kaitan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Jay)

Leave a Reply

Your email address will not be published.