
KETAPANGNEWS.COM—Pelaku pembunuhan, Bernardinus Bonos (63) terhadap keluarganya sendiri Herkulanus Deo (44) mengaku menyesali perbutannya. Dia tega menghabisi nyawa korban dalam kondisi mabuk dan terpancing emosi karena Deo memukulnya tanpa sebab.
Tersangka mengaku, kejadian beermula ketika dirinya menghadiri acara adat dirumah keluarganya yang meninggal dunia di Dusun Kaliampu, Desa Batu Beransah, Kecamatan Tumbang Titi, Kamis (31/10) dinihari.
Bonos menceritakan, saat itu dia ikut datang dan membantu menghidangkan makanan diacara adat keluarga yang meninggal. Korban, kata dia juga ada dilokasi sambil bermain gendang.
Usai membantu menyajikan makanan, dirinya terkejut ketika korban membentak. Kemudian memukulnya menggunakan kelinang atau alat untuk bergendang terbuat dari kuningan tembaga.
“Saat itulah sontak saya juga membalasnya. Sempat terjadi perkelahian sebelum di pisahkan warga. Setelah itu saya pulang kerumah sambil bertanya-tanya salah saya apa, kenapa dipukul tanpa sebab, apalagi sebelumnya tidak ada masalah saya dengan korban,” tuturnya saat diwawancara, Jum’at (1/11).
Ia melanjutkan, sesampai dirumah, ternyata wajahnya berdarah pasca dipukul korban. Semula dia tidak mengetahui jika pelipis matanya mengeluarkan darah, hal itu diketahuinya setelah diberitahu sang anak.
“Awalnya tidak sadar pelipis mata saya berdarah, sebab dalam keadaan mabuk. Mengetahui itu emosi naik, saya cari parang untuk akan mendatangi korban lagi. Namun istri dan anak melarang serta mengambil parang itu untuk disembunyikan,” jelasnya.
Saat itu, dia merasa sedikit tenang dan berbaring. Sedangkan istri dan anaknya pergi kelokasi kejadian, selang beberapa menit, dia kemudian bangun dan mencari parang yang disembunyikan.
“Setelah dicari akhirnya parang saya temukan, saya kelokasi kejadian dan langsung menebaskan parang tersebut dua kali ke korban dan langsung pergi,” ungkapnya.
Beberapa waktu pasca kejadian, dirinya diamankan anggota Polsek Tumbang Titi. Waktu itu, kondisinya mulai stabil lantaran pengaruh alkohol mulai hilang. Saat itulah dia mulai menyesali perbuatannya.
“Penyesalan itu ada bahkan sampai sekarang, saya sempat menangis, apalagi korban masih keluarga saya. Tapi karena saya mabuk dan emosi sehingga emosi saya tidak terkontrol,” ucapnya.
“Saya sudah tobatkan tidak akan mabuk lagi, karena mabuk itu racun hidup. Saya berpesan ke anak-anak untuk tidak ikuti apa yang saya lakukan termasuk minum-minuman keras,” ujar pria paruh baya ini.(absa)