
KETAPANGNEWS.COM—Beberapa hari belakangan di Kabupaten Ketapang diguyur hujan deras. Akibatnya sejumlah ruas jalan dan pemukiman warga kota Ketapang banyak terendam banjir. Al hasil, proyek normalisasi drainase saluran perkotaan Rp1,7 miliar ikut dipermasalahkan warga.
Mereka menuding proyek dari APBD itu sama sekali tidak memberi manfaat. Pasalnya, selain menjadi objek meraup keuntungan pihak tertentu, pengerjaannya juga hanya menggunakan cangkul sehingga hasilnya tidak maksimal.
Anggota DPRD Ketapang, Antoni Salim menilai Pemerintah Daerah (Pemda) masih gagal menanggulangi persoalan banjir khususnya di wilayah perkotaan Ketapang. Padahal menurutnya saat ini Pemda telah menggelontorkan dana cukup besar menanggulangi persoalan banjir di perkotaan.
“Pembangunan drainase tahun lalu sudah bagus, karena sedikit banyak membantu mengurangi banjir bila musim hujan. Harusnya dilanjutkan, bukan malah membuat proyek baru yang dananya sangat besar tapi dampaknya tidak ada,” ketanya, Minggu (24/11).
Ia menuding, proyek normalisasi saluran drainase Rp1,7 miliar tersebut gagal. Pasalnya banjir masih terjadi di sejumlah ruas jalan dan pemukiman warga, seperti di Jalan Beringin dan Jalan H Murni. Seharunya dengan dana sebesar itu persoalan banjir di lokasi yang kerap terjadi banjir bisa teratasi.
“Saya berani bilang ini proyek gagal, dari awal juga sudah tidak benar, ditambah lagi pelaksanaan pekerjaan cuma menggunakan cangkul. Harusnya jika serius ingin menanggulangi persoalan banjir, drainase yang belum tersambung ya disambung, atau kalaupun mau normalisasi saluran mengunakan alat, tapi bukan cangkul,” tuturnya.
Dia meminta Bupati Ketapang untuk mengevaluasi pihak terkait yang melakukan perencanaan hingga terlaksana hanya dengan menggunakan cangkul. Dirinya berharap proyek tersebut dapat di periksa atau di audit oleh pihak-pihak terkait lantaran terkesan asal-asalan.
“Dengan anggaran sebesar itu mestinya bisa dimanfaatkan maksimal. Kasian masyarakat masih terdampak banjir, belum lagi dampak penyakit akibat banjir. Kita harap proyek itu diperiksa, baik aparat penegak hukum maupun inspektorat,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu warga Jalan Beringin, Iting mengaku sangat resah dengan kondisi ini. Pasalnya selain air yang masuk ke pemukiman, dirinya takut adanya binatang liar yang turut masuk karena banjir. “Kondisi ini terus terjadi, tak tau sampai kapan, tentu yang dirugikan masyarakat,” akunya.
Soal pengerjaan proyek, ia berpendapat tidak maksimal dan terkesan asal jadi karena hanya menggunakan cangkul. Kemudian hasil galian tanah tidak langsung dibersihkan dan malah ditimbun di badan jalan.
“Hasilnya, ketika hujan sampah-sampah dari galian turun lagi kebawah, jadi proyek ini sama sekali tidak maksimal dan dampaknya banjir masih saja terjadi,” ketusnya.
Saat dikondirmasi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Ketapang, Sukirno tidak bisa dihubungi, telepon selulur dan pesan singkat yang dikirim awak media tidak direspon. Begitu juga dengan Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) PUTR Ketapang, Lalu.(absa)