Diiringi Riak Hujan dan Tabuhan Gendang Tar, Bupati Buka Pagelaran Seni Budaya Melayu Ketapang 2026

IMG_1794122912021KETAPANGNEWS.COM-Riak hujan yang membasahi bumi Ketapang tak menyurutkan semangat pelestarian budaya. Justru, hujan sore itu menjadi iringan pembuka Pagelaran Seni Budaya Melayu (PSBM) Kabupaten Ketapang Tahun 2026 yang berlangsung semarak di Balai Sungai Kedang, Sabtu (7/11/2026).

Nuansa adat Melayu sudah terasa begitu tamu melangkahkan kaki. Mereka disambut prosesi tabur beras kuning dan tepung tawar, diiringi tabuhan gendang tar serta pertunjukan pencak silat Kutemare yang gagah.

Puncaknya, Bupati Ketapang Alexander Wilyo, S.STP., M.Si., resmi membuka PSBM dengan pemukulan gendang tar. Suasana semakin sakral saat Ketua MABM Provinsi Kalbar melakukan prosesi pemancungan tebu, tradisi adat Melayu yang menjadi penanda dimulainya hajatan budaya ini.

Pembukaan turut dihadiri Wakil Bupati Ketapang Jamhuri Amir, S.H., Ketua DPP MABM Kalbar Prof. Dr. H. Chairil Effendy, M.S., Ketua DPD MABM Ketapang H. Irvan Marsyad, http://S.Pd., M.H., Ketua Panitia H. Marwan Noor, M.M., serta para tokoh adat dan tamu undangan.

Empat Hari Penuh Budaya, Bukan Sekadar Seremonial

PSBM 2026 akan berlangsung selama empat hari, 7 hingga 10 November 2026. Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari Musyawarah Daerah (Musda), Seminar Adat Budaya Melayu, Lomba Dendang Melayu, Lomba Busana Melayu, hingga stand pameran dari berbagai kecamatan.

Di stand pameran itu, masing-masing kecamatan menghadirkan barang bersejarah, kekayaan tradisi, hingga kuliner khas Ketapang. Warga bisa melihat langsung betapa kayanya kearifan lokal Bumi Kayong ini.

Dalam sambutannya, Bupati Alexander Wilyo menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap MABM. Menurutnya, PSBM adalah upaya penting menjaga identitas masyarakat.

“Saya sendiri mengucapkan apresiasi dan mendukung penuh kegiatan ini. Ini merupakan salah satu upaya supaya kita bisa melestarikan adat, kebudayaan, dan tradisi, termasuk identitas kita,” ungkapnya.

Ia menegaskan budaya bukan sekadar tontonan, tapi jati diri.

“Budaya ini adalah salah satu jati diri. Budaya adalah identitas kita. Ketika ini hilang, hilang juga identitas dan jati diri kita,” tegas Bupati.

Bupati berharap PSBM tidak berhenti sebagai seremonial tahunan. Ia ingin kegiatan ini menjadi sekolah budaya bagi generasi muda, tempat mereka belajar sejarah, adat istiadat, tarian, musik tradisional, pakaian adat, hingga warisan budaya Melayu lainnya.

Generasi muda, kata Bupati, jangan hanya menjadi penonton, tapi harus menjadi pelaku dan pelestari budaya.

Dari Budaya untuk Pariwisata dan Ekonomi Rakyat

Lebih jauh, Bupati melihat PSBM punya nilai ekonomi. Potensi seni dan budaya Melayu bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik kunjungan wisatawan.

Penyelenggaraan kegiatan ini juga diharapkan memberi peluang bagi pelaku UMKM, pengrajin, dan pelaku ekonomi kreatif sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, komunitas seni, dan masyarakat, kekayaan budaya diharapkan dapat menjadi salah satu potensi pembangunan daerah,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan keberagaman budaya di Ketapang sebagai kekuatan untuk membangun daerah yang harmonis, rukun, dan sejahtera.

Usai pembukaan, Bupati bersama Wakil Bupati dan tamu undangan meninjau stand pameran kecamatan. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan santap bersama menikmati ketupat colet, kuliner khas kebanggaan masyarakat Ketapang.

PSBM 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat eksistensi adat dan budaya Melayu, mempererat silaturahmi, serta memastikan warisan budaya daerah tetap hidup dan dikenal generasi mendatang.(Adv/Jay).

Leave a Reply

Your email address will not be published.