
KETAPANGNEWS.COM—Warga Dusun Sei Gantang Desa Mekar Utama Kecamatan Kendawangan Ketapang Kalimantan Barat, Indonesia, Ade Nurbayu (20) pelaku penusukan adik kandungnya Ade Nurjanah (13) mengaku sakit hati kepada orangtua kandungnya. Bahkan ternyata ia sudah sakit hati kepada orangtuanya sejak kecil hingga sekarang.
“Saya melakukan itu karena sakit hati sama orangtua. Saya sakit hati sudah lama sejak dari kecil,” kata pemuda yang akrab dipanggil Erik ini kepada wartawan di Mapolres Ketapang, Selasa (8/11).
Ia sakit hari karena orangtuanya sudah biasa hidup kasar. Ia mengaku apapun yang terjadi dirinya memang di didik tak boleh menangis. Kemudian saat beranjak besar dirinya-lah yang harus menghidupi anggota keluarganya.
Diceritakannya ia kelahiran Indramayu, Jawa Barat pada 1996 silam. Kemudian sejak usia 6 bulan ia dibawa orangtuanya mengadu nasib pindah ke Ketapang. Pada awalnya ketika hidup di Ketapang perekonomian orangtuanya stabil.
Bahkan keluarganya sempat membuka toko sembako dan lain-lain. Namun karena pengaturan keuangan tidak baik,usaha keluarganya akhirnya bangkrut. Menurutnya pasang surut perekonomian keluarganya terjadi sekitar tiga kali.
Ketika kondisi perekonomian keluarganya sangat memburuk,akhirnya hidup mereka terpencar. Ia yang masih muda hidup bersama dua adiknya di Kendawangan. Sedangkan satu abangnya berdiam di Kota Ketapang.
Namun ia juga masih juga ada saudaranya yang di Medan sedang kuliah. Sedangkan ayah dan ibunya ada di Jawa bersama adik bungsunya. Ia pun semakin merasa kecewa sama orangtuanya karena dinilainya tega melihat anak sendiri terlantar.
Menurutnya ada banyak masa kelam yang harus ia lewati bersama abang dan adik-adiknya. Semua disebabkan kurangnya perhatian dan kasih sayang kedua orangtuanya.Kemudian sakit hatinya memuncak pada Minggu (6/11) malam kemarin.
Bahkan ia sampai kalap nekad hendak membunuh adik kandungnya,Ade Nurjanah (13). Ia tusuk adik kandungnya menggunakan pisau hingga beberapa kali. Saat ini pun adiknya masih di rawan intensif di RS Fatima Ketapang.
“Ini sebagai bukti kalau saya sudah tidak sanggup lagi,” ungkapnya.
Ia menceritakan,sehari sebelum hari penusukan itu, Ia mendatangi adiknya yang tinggal bersama keluarga angkatnya, Iwan. Kedatangannya untuk mengajak korban pindah ke rumah salah satu guru yang mengaku siap membiayai kebutuhan adiknya.
Menurutnya saat itu korban tak menolak ajakanya. Justru penolakan datang dari orangtuanya yang ada di Pulau Jawa. Bahkan orangtuanya berencana menitipkan adik bungsunya lagi kepadanya,hal itu membuat pelaku semakin kecewa.
“Kok ada orangtua seperti itu. Tega melihat anaknya terlantar.Jadi saya menusuk adik saya karena sakit hati sama orangtua.Saya sudah tidak sanggup menanggung beban dan malu pada orang,” ungkapnya.
Ia menambahkan,sebenarnya tidak tega menyakiti,apalagi menghabisi nyawa adik kesayangannya. Namun karena terlanjur sakit hati kepada kedua orangtuanya.Sehingga ia melampiaskan kepada adik kesayangannya tersebut.
Pelaku bersama dua adiknya hidup numpang di rumah orang di Kendawangan. Ia dan kedua adiknya masing-masing tinggal di dua rumah orang yang berbeda. Hal itulah membuatnya malu, terlebih ia tak memiliki penghasilan tetap sejak enam bulan terakhir.
“Jadi saya sadar apa yang saya lakukan setelah menusuk adik saya. Meskipun saya ditahan saya lebih tenang ada di sini,” ucapnya.(dra)