
KETAPANGNEWS.COM—Hilangnya uang nasabah Bank Rakyat Indonesi (BRI) Cabang Ketapang Rp 62.812.344 ulah dari penipu pada 24 Agustus lalu menjadi polemik membingungkan. Hal tersebut dialami Novita (17) warga Desa Kalinilam.
Kronologis penipuan hingga uangnya ludes, Novita menjelaskan, ketika itu ia ditelpon pelaku yang mengaku pihak BRI. Sebelum melancarkan meminta nomor mTOKEN penipu menyebutkan identitasnya sangat tepat dan jelas. Kemudian penipun menjelaskan pihak BRI mau melakukan pembaharuan datanya.
Selanjutnya, dalam keadaan menelpon, penipu meminta bacakan nomor mTOKEN yang ternyata dikirim dari IB BRI. Dirinya mengetahui itu memang benar kiriman dari BRI, sebab saat menabung dahulu juga pernah masuk ke handponnya.
Lantaran sms itu benar dari BRI ia pun percaya bahwa penipu itu petugas BRI. Ia pun membacakan nomor mTOKEN yang diminta penipu tersebut. Kemudian penipu meminta ia bacakan lagi nomor mTOKEN yang ternyata ada lagi dikirim dari IB BRI sebanyak tiga kali berturut turut dengan bahasa yang sama.
“Tiga kali nomor mTOKEN dikirim IB BRI saat penipu menelpon saya. Pada hal saya tidak meminta agar BRI mengirimkannya. Atas dasar itulah saya bacakan. Karena saya beranggapan itu benar IB BRI,” tuturnya
Usai pelaku menelpon dirinya, masuk sms bahwa dirinya mentransfer uang ke rekening orang lain. “Atas kejadian tersebut saya memberitahu orangtua saya. Kemudian bersama orangtua saya pergi ke BRI meminta agar rekening tersebut diblokir,” tambahnya.
Mengenai kejadian itu, pihaknya sudah melaporkan kepada pihak kepolisian. “Kita berharap penipuan ini segera terungkap dan pelakunya ditangkap,” harapnya.
Aneh Penipu Bisa Tahu Kalau BRI Kirim SMS

Sementara itu, Hariyanto alias Akong (48) orang tua Novita mengaku aneh kenapa penipu tau identitas anaknya.
“Lebih aneh lagi ketika penipu menelpon pada waktu bersamaan BRI mengirimkan sms berisi nomor m TOKEN. Bahkan tiga kali pihak BRI mengirim sms ternyata penipu mengetahuinya sangat tepat,” kata Akong saas ditemui wartawan di Ketapang, Rabu (7/12).
Mengenai sms tersebut, dirinya sudah menanyakan sms yang masuk ke handpone anaknya. Kata orang BRI memang benar sms itu dikirim langsung oleh BRI.
“Jadi aneh kenapa pelaku begitu mengetahui pergerakan BRI. Anak saya tentu tak akan membacakan nomor mTOKEN jika BRI tak mengirimi sms,” cetusnya.
Ia menegaska, anaknya tidak pernah melakukan transaksi melalui online, seperti belanja online. Ini tersebut bisa dicek langsung oleh pihak BRI dengan melihat transaksi-transaksi anaknya jika tidak percaya. “Kalau mereka tidak percaya cek saja ditransaksi rekening Novita, ada atau tidak,” tegasnya.
Terkait saran BRI, agar mengajukan upaya mediasi ke Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) di Jakarta. Dirinya mengaku sudah menelpon namun diarahkan ke Bank Indonesia di Pontianak.
Selanjutnya, pihak BRI Ketapang juga memberi dirinya nomor untuk menghubungi petugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Pontianak. Meski sudah ditelpon, OJK Pontianak mengarahkan lagi ke pihak BRI Ketapang.
Setelah itu, kita diminta membuat surat pengaduan. Namun dirinya tidak bisa lantaran tak mengetahui bagaimana membuat, apa isi dan ditujukan kepada siapa. Kemudian pihak BRI Ketapang ada menelponnya akan membantu hal itu.
“Kata pimpinannya mau membuatkan surat itu, tapi sampai sekarang belum ada. Kalau saya yang buat, saya binggung, tak tahu. Saya hanya siap bila mediasi dilaksanakan cepat. Tapi bagaimana proses mengajukannya, saya minta bantuan BRI lah,” pintanya.
Terhadap hasil investigasi pihak BRI ada dua kategori terkait pembobolan rekening nasabahnya. Pertama murni penipuan terhadap korban sehingga BRI tak menganti uang korban. Kedua karena dimungkinkan kelemahan sistem pada BRI dan BRI akan melakukan pengantian.
“Memang benar itu penipuan terhadap anak saya, tapi mungkin karena kelemahan sistem BRI. Kenapa penipu begitu mengetahui pergerakan BRI yang mengirim sms tersebut,” tanya dia.
Sistem Bukan Wewenang Saya

Terpisah, Pimpinan Tbk BRI Cabang Ketapang, Dekhi Ensya Permadi mengatakan, Mengenai sistem kamanan, dirinya mengaku hal demikian diluar wewenang pihaknya. Ditanya kenapa informasi soal data korban bisa diketahui, dirinya menjawab “itupun diluar kewenangan pihaknya.”
“Kalau pelaku mengetahui data itu, itu diluar kewenagan kami untuk memberi pernyataan,” kata Dekhi.
Selain itu, mengenai ada atau tidaknya keterlibatan orang dalam terhadap pembobolan rekening, dirinya mengaku tidak tahu karena hal itu sudah dilakukan investigasi, dan sampai saat ini hasilnya seperti surat yang telah disampaikan kepada korban.
Terkait upaya memperkuat sistem, saat ini pihaknya sedang dalam upaya memperkuat sistem agar hal serupa tidak lagi terjadi. Menurutnya, berdasarkan perkembangan tekhnologi yang semakin berubah, pihak BRI selalu Up Date dalam memperkuat sistem.
“Kalau sistem yang kemaren saya tidak tahu. Karena bukan wewenang saya,”
Meski demikian, ia sempat menyebutkan “yang namanya hecker melakukan kejahatan melalui internet. Dia punya cara sendiri untuk masuk ke situ. ”
Mengenai Data nasabah, ia membenarkan bahwa data nasabah adalah tanggung jawab BRI. Namun mengapa bisa dibobol dirinya mengaku tidak tahu. “Saya tidak bisa menjawab itu karena saya tidak ikut investigasi.” ucapnya.
“Yang namanya penipuan banyak unsur. Secara detail masuknya kepada sistem saya juga tidak bisa menjawab,” timbalnya.(absa)